Dé Máirt 21 Aibreán 2009
Syukur...
Alhamdulillah, aku dapat selesaikan praktikum 1, seronok sangat kerana praktikum ini memberikan seribu pengalaman bermakna buat aku, sebagai guru pelatih, sebelum aku terjun ke medan sebenar dan karenah murid-murid, serta bergaul dgn guru-guru berpengalaman selama hampir sebulan, betul2 banyak mematangkan aku,
Aku rakamkan sekali lagi ucapan terima kasih buat guru pembimbing, ustazah Lela dan Ustazah Radiah, atas segala bantuan. kenangan di SK TAMBAY takkan aku lupakan...
Aku rakamkan sekali lagi ucapan terima kasih buat guru pembimbing, ustazah Lela dan Ustazah Radiah, atas segala bantuan. kenangan di SK TAMBAY takkan aku lupakan...
Dé Céadaoin 17 Nollaig 2008
Dé Máirt 16 Nollaig 2008
Dé Luain 15 Meán Fómhair 2008
Bencana Atau Azab??????
Oleh: Mochamad Bugi
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.
1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-benar beriman atau tidak.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)
2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)
3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt.
Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al-Qashas: 40)
4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt.
Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).
5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)
Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab
Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan kerugian yang besar –seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– sering muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan dari Allah?
Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.
Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).
Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.
Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.
Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.
Sebab-sebab Terjadinya Bencana
Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Silakan simak beberapa data di bawah ini.
Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).
Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.
Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91)
Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)
Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.
Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita. Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.
1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-benar beriman atau tidak.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)
2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)
3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt.
Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al-Qashas: 40)
4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt.
Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).
5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)
Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab
Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan kerugian yang besar –seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– sering muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan dari Allah?
Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.
Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).
Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.
Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.
Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.
Sebab-sebab Terjadinya Bencana
Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Silakan simak beberapa data di bawah ini.
Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).
Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.
Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91)
Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)
Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.
Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita. Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!
Pengajaran Dari Paku...
Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan seruan agama. Meskipun telah banyak berbuih ajakan dan nasihat, seruan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain, dia tetap meninggalkannya. Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi rutinitasnya.
Suatu hari seorang ikhwah tersebut memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini". Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.
Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Maka dia pun beniat untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.
Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan aku akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?" Mat merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis tersedak-sedak. "Kenapa anakku?" tanya ayahnya, "Aku menyangka kau gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada". Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, "Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya".
Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.
Sumber : Kisah Orang-Orang Taubat - Pondok Pesantren Nurul Huda
Suatu hari seorang ikhwah tersebut memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini". Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.
Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Maka dia pun beniat untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.
Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan aku akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?" Mat merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis tersedak-sedak. "Kenapa anakku?" tanya ayahnya, "Aku menyangka kau gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada". Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, "Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya".
Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.
Sumber : Kisah Orang-Orang Taubat - Pondok Pesantren Nurul Huda
Déardaoin 11 Meán Fómhair 2008
Pengajaran Di Balik Teguran Allah
tulisan : Ust Abdullah Yasin
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (١) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢) وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣) إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِن تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤) عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)
Terjemahan:
(1) Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(2) Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(3) Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
(4) Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
(5) Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
(At-Tahrim: 1-5)
Sebab Turun Ayat:
Aisyah (ra) berkata: Adalah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sanagat suka kepada manisan (halwa) dan madu (‘asl). Biasanya jika selesai solat ‘Ashr beliau akan memasuki rumah isteri-isterinya dan ketika itu giliran Zainab Binti Jahsy. Baginda Rasul (sallallahu alaihi wasalam) minum madu di rumahnya. Lalu akupun bersepakat dengan Hafsah yakni jika baginda memasuki rumah di antara kita hendaklah kita mengatakan kepadanya: Saya tercium bau “maghaafir” (sejenis tumbuhan yang tumbuh di Hijaz rasanya manis tetapi mengeluarkan bau busuk), apakah tuan telah makan maghaafir? Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: Tidak, aku hanya minum madu di rumah Zainab Binti Jahsy dan aku bersumpah tidak akan minum madu lagi, dan jangan engkau ceritakan perkara ini kepada siapapun”.
[HR Bukhari dan Muslim]
Tafsiran Ayat:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?
Maksudnya: Wahai Nabi, mengapa engkau enggan minum madu yang telah dihalalkan oleh Allah untukmu, malahan sanggup bersumpah untuk itu, hanya semata-mata ingin mendapat keredaan dan meneyenangkan hati sebagian isteri-isterimu?
Ini adalah tegoran langsung daripada Allah ke atas NabiNya yang telah berbuat demikian. Karena motif beliau berbuat demikian bukanlah dengan tujuan yang diredai Allah, tetapi hanya mencari keredaan sebagian isteri-isterinya.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maksudnya: Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hambaNya yang mahu bertobat. Dan Allah SWT telahpun mengampuni engkau di atas keenggananmu terhadap apa yang telah dihalalkanNya itu. Dan Dia Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang tobat sehingga Dia tidak akan menyiksa mereka karena dosa-dosa yang telah berlalu.
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada kita agar membebaskan diri kita daripada sumpah yang telah kita ucapkan dengan membayar kaffarat sumpah iaitu salah satu dari tiga perkara berikut:
Memberi makan kepada 10 orang miskin
Memberi pakaian kepada 10 orang miskin
Memerdekakan seorang budak (hamba sahaya)
Dan jika tidak mampu melakukan salah satu daripada tiga perkara di atas maka hendaklah ia berpuasa selama 3 hari. Penjelasan tentang kaffarat sumpah ini boleh didapati pada ayat (89) Surah Al-Maidah. Lihat Fiqh As-Sunnah Jld. III Hal. 24-25.
Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah membebaskan sumpah beliau itu dengan memerdekakan seorang hamba sahaya.
Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah)
Maksudnya: Nabi (sallallahu alaihi wasalam) meminta kepada Hafsah agar merahasiakan peristiwa di atas (lihat sebab turun ayat) dan jangan diceritakan kepada sesiapapun. Tetapi Hafsah telah menceritakan semua rahasia itu kepada Ausyah. Allah Yang Maha Mengetahui telah memberitahukan kepada Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tentang pakatan rahasia antara Hafsah dengan Aisyah. Lalu Nabi pun menceritakan sebagian saja kepada Hafsah daripada apa yang telah diberitahukan Allah SWT kepadanya. Dan menyembunyikan sebagian yang lain.
Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
Maksudnya: Ketika Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menceritakan kepada Hafsah tentang apa yang telah mereka sepakati dan sebahagian pembicaraan antara mereka berdua, maka Hafsah dengan rasa heran dan terkejut lalu bertanya: Siapakah yang telah menceritakan kepada tuan tentang perkara ini? Hafsah (ra) mengira Aisyah (ra) telah membocorkan rahasia mereka berdua. Lalu Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: “Yang memberitahukan kepadaku ialah Allah Yang Maha Menegtahui segala-galanya, samada yang besar ataupun yang kecil; Yang Maha Mengenal, samada di bumi ataupun yang di langit”.
Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula
Maksdunya: Ayat ini ditujukan kepada Hafsah dan Aisyah agar mereka berdua bertobat kepada Allah terhadap dosa mereka dan supaya mereka berdua berhenti daripada menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam). Mereka hendaknya menyukai apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) sukai dan benci apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) benci. Sekiranya meeka berbuat demikian (tobat) maka itu bermakna hati mereka condong kepada kebenaran (haq) dan kebaikan (khair).
Ibnu Abbas menceritakan bahwa ia sangat ingin bertanya kepada Umar Ibnu Al-Khattab untuk mengetahui siapakah yang dimaksudkan dengan dua isteri Rasul itu. Sehingga beliau turut pergi haji ketika umar haji. Ketika Umar turun untuk berwudhu’ beliau cepat-cepat tolong menjirus air untuk Umar berwudhu’ sambil bertanya: “Ya Amiral Mukminin, siapakah dua wanita dari isteri-isteri Rasul (sallallahu alaihi wasalam) yang dimaksudkan dalam firman Allah: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah…? Lalu Umar menjawab: Sungguh heran engkau ini wahai Abbas, mereka berdua itu adalah Aisyah dan Hafsah”.
Dalam ayat di atas juga Allah memberi amaran kerasNya bahwa jika pakatan untuk menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam) diteruskan juga seperti cemburu yang keterlaluan dan menyebarkan rahasia Nabi maka Allah tetap akan melindungi RasulNya, begitu juga Jibril, orang-orang mukmin yang baik dan para malaikatNya yang lain.
Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan
Maksudnya: Sekiranya Nabi mengambil keputusan untuk menceraikan isteri-isterinya yang selalu menyusahkannya, maka Allah berjanji akan menggantikan untuk Nabi (sallallahu alaihi wasalam) isteri-isteri yang lebih baik yang mempunyai sifat-sifat terpuji antaranya: patuh, beriman, taat, selalu bertobat, banyak beribadat, berpuasa dan lain-lain lagi sifat-sifat mulia.
Kesimpulan:
1. Kita para suami dilarang oleh Allah untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah SWT hanya sekedar ingin mendapat simpati dan menyenangkan hati isteri. Apalgi sampai sanggup untuk memutuskan hubungan silaturrahim dengan ibu bapa dan kaum kerabat. Ingat kisah benar: “ ‘Al-Qamah” yang susah mengucap “dua kalimah syahadat” menjelang wafatnya sebab ia telah melukakan hati ibunya karena terlalu sayang pada isterinya.
2. Tidak menjadi kesalahan jika kita menyimpan rahasia kepada seseorang iateri atau teman yang dipercayai. Dan orang berkenaan mestilah menyimpan rahasia itu dengan baik.
3. Suami hendaklah menegor sikap isteri yang kurang baik itu dengan bijak dan lemah lembut. Dan dalam hal ini suami dinasehatkan jangan hanya melihat kesalahan isterinya, akan tetapi juga mestilah melihat kebaikan-kebaikan isterinya.
4. Cemburu sudah menjadi fitrah atau sifat semulajadi bagi setiap wanita. Sifat tersebut tidak mengurangi iman mereka asalkan tidak keterlaluan.
5. Jaminan pertolongan dan perlindungan daripada Allah untuk NabiNya menunjukkan bahwa pakatan dan rencana jahat sesetengah wanita itu adalah suatu cobaan besar bagi para suami.
6. Dalam ayat (5) Allah SWT secara tidak langsung telah mendedahkan beberapa sifat utama bagi wanita yang salehah, iaitu:
i. Mereka patuh
ii. Mereka beriman
iii. Mereka taat
iv. Mereka bertaubat
v. Mereka banyak beribadat
vi. Mereka berpuasa
-Mudah Mudahan bermanfaat buat diri yang lemah dan hina ini...
HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (١) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢) وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣) إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِن تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤) عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)
Terjemahan:
(1) Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(2) Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(3) Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
(4) Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
(5) Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
(At-Tahrim: 1-5)
Sebab Turun Ayat:
Aisyah (ra) berkata: Adalah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sanagat suka kepada manisan (halwa) dan madu (‘asl). Biasanya jika selesai solat ‘Ashr beliau akan memasuki rumah isteri-isterinya dan ketika itu giliran Zainab Binti Jahsy. Baginda Rasul (sallallahu alaihi wasalam) minum madu di rumahnya. Lalu akupun bersepakat dengan Hafsah yakni jika baginda memasuki rumah di antara kita hendaklah kita mengatakan kepadanya: Saya tercium bau “maghaafir” (sejenis tumbuhan yang tumbuh di Hijaz rasanya manis tetapi mengeluarkan bau busuk), apakah tuan telah makan maghaafir? Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: Tidak, aku hanya minum madu di rumah Zainab Binti Jahsy dan aku bersumpah tidak akan minum madu lagi, dan jangan engkau ceritakan perkara ini kepada siapapun”.
[HR Bukhari dan Muslim]
Tafsiran Ayat:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?
Maksudnya: Wahai Nabi, mengapa engkau enggan minum madu yang telah dihalalkan oleh Allah untukmu, malahan sanggup bersumpah untuk itu, hanya semata-mata ingin mendapat keredaan dan meneyenangkan hati sebagian isteri-isterimu?
Ini adalah tegoran langsung daripada Allah ke atas NabiNya yang telah berbuat demikian. Karena motif beliau berbuat demikian bukanlah dengan tujuan yang diredai Allah, tetapi hanya mencari keredaan sebagian isteri-isterinya.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maksudnya: Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hambaNya yang mahu bertobat. Dan Allah SWT telahpun mengampuni engkau di atas keenggananmu terhadap apa yang telah dihalalkanNya itu. Dan Dia Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang tobat sehingga Dia tidak akan menyiksa mereka karena dosa-dosa yang telah berlalu.
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada kita agar membebaskan diri kita daripada sumpah yang telah kita ucapkan dengan membayar kaffarat sumpah iaitu salah satu dari tiga perkara berikut:
Memberi makan kepada 10 orang miskin
Memberi pakaian kepada 10 orang miskin
Memerdekakan seorang budak (hamba sahaya)
Dan jika tidak mampu melakukan salah satu daripada tiga perkara di atas maka hendaklah ia berpuasa selama 3 hari. Penjelasan tentang kaffarat sumpah ini boleh didapati pada ayat (89) Surah Al-Maidah. Lihat Fiqh As-Sunnah Jld. III Hal. 24-25.
Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah membebaskan sumpah beliau itu dengan memerdekakan seorang hamba sahaya.
Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah)
Maksudnya: Nabi (sallallahu alaihi wasalam) meminta kepada Hafsah agar merahasiakan peristiwa di atas (lihat sebab turun ayat) dan jangan diceritakan kepada sesiapapun. Tetapi Hafsah telah menceritakan semua rahasia itu kepada Ausyah. Allah Yang Maha Mengetahui telah memberitahukan kepada Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tentang pakatan rahasia antara Hafsah dengan Aisyah. Lalu Nabi pun menceritakan sebagian saja kepada Hafsah daripada apa yang telah diberitahukan Allah SWT kepadanya. Dan menyembunyikan sebagian yang lain.
Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
Maksudnya: Ketika Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menceritakan kepada Hafsah tentang apa yang telah mereka sepakati dan sebahagian pembicaraan antara mereka berdua, maka Hafsah dengan rasa heran dan terkejut lalu bertanya: Siapakah yang telah menceritakan kepada tuan tentang perkara ini? Hafsah (ra) mengira Aisyah (ra) telah membocorkan rahasia mereka berdua. Lalu Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: “Yang memberitahukan kepadaku ialah Allah Yang Maha Menegtahui segala-galanya, samada yang besar ataupun yang kecil; Yang Maha Mengenal, samada di bumi ataupun yang di langit”.
Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula
Maksdunya: Ayat ini ditujukan kepada Hafsah dan Aisyah agar mereka berdua bertobat kepada Allah terhadap dosa mereka dan supaya mereka berdua berhenti daripada menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam). Mereka hendaknya menyukai apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) sukai dan benci apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) benci. Sekiranya meeka berbuat demikian (tobat) maka itu bermakna hati mereka condong kepada kebenaran (haq) dan kebaikan (khair).
Ibnu Abbas menceritakan bahwa ia sangat ingin bertanya kepada Umar Ibnu Al-Khattab untuk mengetahui siapakah yang dimaksudkan dengan dua isteri Rasul itu. Sehingga beliau turut pergi haji ketika umar haji. Ketika Umar turun untuk berwudhu’ beliau cepat-cepat tolong menjirus air untuk Umar berwudhu’ sambil bertanya: “Ya Amiral Mukminin, siapakah dua wanita dari isteri-isteri Rasul (sallallahu alaihi wasalam) yang dimaksudkan dalam firman Allah: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah…? Lalu Umar menjawab: Sungguh heran engkau ini wahai Abbas, mereka berdua itu adalah Aisyah dan Hafsah”.
Dalam ayat di atas juga Allah memberi amaran kerasNya bahwa jika pakatan untuk menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam) diteruskan juga seperti cemburu yang keterlaluan dan menyebarkan rahasia Nabi maka Allah tetap akan melindungi RasulNya, begitu juga Jibril, orang-orang mukmin yang baik dan para malaikatNya yang lain.
Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan
Maksudnya: Sekiranya Nabi mengambil keputusan untuk menceraikan isteri-isterinya yang selalu menyusahkannya, maka Allah berjanji akan menggantikan untuk Nabi (sallallahu alaihi wasalam) isteri-isteri yang lebih baik yang mempunyai sifat-sifat terpuji antaranya: patuh, beriman, taat, selalu bertobat, banyak beribadat, berpuasa dan lain-lain lagi sifat-sifat mulia.
Kesimpulan:
1. Kita para suami dilarang oleh Allah untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah SWT hanya sekedar ingin mendapat simpati dan menyenangkan hati isteri. Apalgi sampai sanggup untuk memutuskan hubungan silaturrahim dengan ibu bapa dan kaum kerabat. Ingat kisah benar: “ ‘Al-Qamah” yang susah mengucap “dua kalimah syahadat” menjelang wafatnya sebab ia telah melukakan hati ibunya karena terlalu sayang pada isterinya.
2. Tidak menjadi kesalahan jika kita menyimpan rahasia kepada seseorang iateri atau teman yang dipercayai. Dan orang berkenaan mestilah menyimpan rahasia itu dengan baik.
3. Suami hendaklah menegor sikap isteri yang kurang baik itu dengan bijak dan lemah lembut. Dan dalam hal ini suami dinasehatkan jangan hanya melihat kesalahan isterinya, akan tetapi juga mestilah melihat kebaikan-kebaikan isterinya.
4. Cemburu sudah menjadi fitrah atau sifat semulajadi bagi setiap wanita. Sifat tersebut tidak mengurangi iman mereka asalkan tidak keterlaluan.
5. Jaminan pertolongan dan perlindungan daripada Allah untuk NabiNya menunjukkan bahwa pakatan dan rencana jahat sesetengah wanita itu adalah suatu cobaan besar bagi para suami.
6. Dalam ayat (5) Allah SWT secara tidak langsung telah mendedahkan beberapa sifat utama bagi wanita yang salehah, iaitu:
i. Mereka patuh
ii. Mereka beriman
iii. Mereka taat
iv. Mereka bertaubat
v. Mereka banyak beribadat
vi. Mereka berpuasa
-Mudah Mudahan bermanfaat buat diri yang lemah dan hina ini...
HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM
Subscribe to:
Posts (Atom)

