Dé Luain 15 Meán Fómhair 2008

Bencana Atau Azab??????

Oleh: Mochamad Bugi

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)

Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.

1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-benar beriman atau tidak.

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)

2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)

3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt.

Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al-Qashas: 40)

4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt.

Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).

5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab

Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan kerugian yang besar –seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– sering muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan dari Allah?

Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.

Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).

Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.

Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.

Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.

Sebab-sebab Terjadinya Bencana

Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Silakan simak beberapa data di bawah ini.

Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).
Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”

Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.

Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91)

Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)

Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.

Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita. Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!

Pengajaran Dari Paku...

Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan seruan agama. Meskipun telah banyak berbuih ajakan dan nasihat, seruan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain, dia tetap meninggalkannya. Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi rutinitasnya.

Suatu hari seorang ikhwah tersebut memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini". Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.

Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Maka dia pun beniat untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan aku akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?" Mat merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis tersedak-sedak. "Kenapa anakku?" tanya ayahnya, "Aku menyangka kau gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada". Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, "Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya".

Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.

Sumber : Kisah Orang-Orang Taubat - Pondok Pesantren Nurul Huda

Déardaoin 11 Meán Fómhair 2008

Pengajaran Di Balik Teguran Allah

tulisan : Ust Abdullah Yasin

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (١) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢) وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣) إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِن تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤) عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)
Terjemahan:

(1) Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(2) Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

(3) Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

(4) Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

(5) Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

(At-Tahrim: 1-5)




Sebab Turun Ayat:

Aisyah (ra) berkata: Adalah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sanagat suka kepada manisan (halwa) dan madu (‘asl). Biasanya jika selesai solat ‘Ashr beliau akan memasuki rumah isteri-isterinya dan ketika itu giliran Zainab Binti Jahsy. Baginda Rasul (sallallahu alaihi wasalam) minum madu di rumahnya. Lalu akupun bersepakat dengan Hafsah yakni jika baginda memasuki rumah di antara kita hendaklah kita mengatakan kepadanya: Saya tercium bau “maghaafir” (sejenis tumbuhan yang tumbuh di Hijaz rasanya manis tetapi mengeluarkan bau busuk), apakah tuan telah makan maghaafir? Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: Tidak, aku hanya minum madu di rumah Zainab Binti Jahsy dan aku bersumpah tidak akan minum madu lagi, dan jangan engkau ceritakan perkara ini kepada siapapun”.

[HR Bukhari dan Muslim]




Tafsiran Ayat:

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?

Maksudnya: Wahai Nabi, mengapa engkau enggan minum madu yang telah dihalalkan oleh Allah untukmu, malahan sanggup bersumpah untuk itu, hanya semata-mata ingin mendapat keredaan dan meneyenangkan hati sebagian isteri-isterimu?

Ini adalah tegoran langsung daripada Allah ke atas NabiNya yang telah berbuat demikian. Karena motif beliau berbuat demikian bukanlah dengan tujuan yang diredai Allah, tetapi hanya mencari keredaan sebagian isteri-isterinya.




Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maksudnya: Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hambaNya yang mahu bertobat. Dan Allah SWT telahpun mengampuni engkau di atas keenggananmu terhadap apa yang telah dihalalkanNya itu. Dan Dia Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang tobat sehingga Dia tidak akan menyiksa mereka karena dosa-dosa yang telah berlalu.




Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada kita agar membebaskan diri kita daripada sumpah yang telah kita ucapkan dengan membayar kaffarat sumpah iaitu salah satu dari tiga perkara berikut:

Memberi makan kepada 10 orang miskin
Memberi pakaian kepada 10 orang miskin
Memerdekakan seorang budak (hamba sahaya)


Dan jika tidak mampu melakukan salah satu daripada tiga perkara di atas maka hendaklah ia berpuasa selama 3 hari. Penjelasan tentang kaffarat sumpah ini boleh didapati pada ayat (89) Surah Al-Maidah. Lihat Fiqh As-Sunnah Jld. III Hal. 24-25.

Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah membebaskan sumpah beliau itu dengan memerdekakan seorang hamba sahaya.




Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah)

Maksudnya: Nabi (sallallahu alaihi wasalam) meminta kepada Hafsah agar merahasiakan peristiwa di atas (lihat sebab turun ayat) dan jangan diceritakan kepada sesiapapun. Tetapi Hafsah telah menceritakan semua rahasia itu kepada Ausyah. Allah Yang Maha Mengetahui telah memberitahukan kepada Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tentang pakatan rahasia antara Hafsah dengan Aisyah. Lalu Nabi pun menceritakan sebagian saja kepada Hafsah daripada apa yang telah diberitahukan Allah SWT kepadanya. Dan menyembunyikan sebagian yang lain.




Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Maksudnya: Ketika Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menceritakan kepada Hafsah tentang apa yang telah mereka sepakati dan sebahagian pembicaraan antara mereka berdua, maka Hafsah dengan rasa heran dan terkejut lalu bertanya: Siapakah yang telah menceritakan kepada tuan tentang perkara ini? Hafsah (ra) mengira Aisyah (ra) telah membocorkan rahasia mereka berdua. Lalu Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: “Yang memberitahukan kepadaku ialah Allah Yang Maha Menegtahui segala-galanya, samada yang besar ataupun yang kecil; Yang Maha Mengenal, samada di bumi ataupun yang di langit”.




Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula

Maksdunya: Ayat ini ditujukan kepada Hafsah dan Aisyah agar mereka berdua bertobat kepada Allah terhadap dosa mereka dan supaya mereka berdua berhenti daripada menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam). Mereka hendaknya menyukai apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) sukai dan benci apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) benci. Sekiranya meeka berbuat demikian (tobat) maka itu bermakna hati mereka condong kepada kebenaran (haq) dan kebaikan (khair).

Ibnu Abbas menceritakan bahwa ia sangat ingin bertanya kepada Umar Ibnu Al-Khattab untuk mengetahui siapakah yang dimaksudkan dengan dua isteri Rasul itu. Sehingga beliau turut pergi haji ketika umar haji. Ketika Umar turun untuk berwudhu’ beliau cepat-cepat tolong menjirus air untuk Umar berwudhu’ sambil bertanya: “Ya Amiral Mukminin, siapakah dua wanita dari isteri-isteri Rasul (sallallahu alaihi wasalam) yang dimaksudkan dalam firman Allah: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah…? Lalu Umar menjawab: Sungguh heran engkau ini wahai Abbas, mereka berdua itu adalah Aisyah dan Hafsah”.

Dalam ayat di atas juga Allah memberi amaran kerasNya bahwa jika pakatan untuk menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam) diteruskan juga seperti cemburu yang keterlaluan dan menyebarkan rahasia Nabi maka Allah tetap akan melindungi RasulNya, begitu juga Jibril, orang-orang mukmin yang baik dan para malaikatNya yang lain.




Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan

Maksudnya: Sekiranya Nabi mengambil keputusan untuk menceraikan isteri-isterinya yang selalu menyusahkannya, maka Allah berjanji akan menggantikan untuk Nabi (sallallahu alaihi wasalam) isteri-isteri yang lebih baik yang mempunyai sifat-sifat terpuji antaranya: patuh, beriman, taat, selalu bertobat, banyak beribadat, berpuasa dan lain-lain lagi sifat-sifat mulia.



Kesimpulan:

1. Kita para suami dilarang oleh Allah untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah SWT hanya sekedar ingin mendapat simpati dan menyenangkan hati isteri. Apalgi sampai sanggup untuk memutuskan hubungan silaturrahim dengan ibu bapa dan kaum kerabat. Ingat kisah benar: “ ‘Al-Qamah” yang susah mengucap “dua kalimah syahadat” menjelang wafatnya sebab ia telah melukakan hati ibunya karena terlalu sayang pada isterinya.

2. Tidak menjadi kesalahan jika kita menyimpan rahasia kepada seseorang iateri atau teman yang dipercayai. Dan orang berkenaan mestilah menyimpan rahasia itu dengan baik.

3. Suami hendaklah menegor sikap isteri yang kurang baik itu dengan bijak dan lemah lembut. Dan dalam hal ini suami dinasehatkan jangan hanya melihat kesalahan isterinya, akan tetapi juga mestilah melihat kebaikan-kebaikan isterinya.

4. Cemburu sudah menjadi fitrah atau sifat semulajadi bagi setiap wanita. Sifat tersebut tidak mengurangi iman mereka asalkan tidak keterlaluan.

5. Jaminan pertolongan dan perlindungan daripada Allah untuk NabiNya menunjukkan bahwa pakatan dan rencana jahat sesetengah wanita itu adalah suatu cobaan besar bagi para suami.

6. Dalam ayat (5) Allah SWT secara tidak langsung telah mendedahkan beberapa sifat utama bagi wanita yang salehah, iaitu:

i. Mereka patuh
ii. Mereka beriman
iii. Mereka taat
iv. Mereka bertaubat
v. Mereka banyak beribadat
vi. Mereka berpuasa

-Mudah Mudahan bermanfaat buat diri yang lemah dan hina ini...

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Sekerat Islam...

“Dia sudah kurangkan minum araknya dari siang malam pagi petang, kepada meminumnya hanya untuk sesekali menghilangkan ketagihan!”, kata si A.

“Rasanya saya ada nampak dia pergi masjid untuk sembahyang Jumaat. Ok la tu, at least dia sudah mula sembahyang”, ujar si B tentang rakannya.

HUKUM VS DAKWAH

Perkembangan separuh-separuh begitu, akan dibalas bergantung kepada persepsi seseorang. Jika kita melihatnya dari kacamata hukum, maka minum arak sesekali tiada bezanya dengan minum arak sentiasa. Dia tetap seorang peminum arak. Orang yang hanya bersembahyang Jumaat dengan meninggalk stan sembahyang fardhu yang lima secara harian itu, tetap dilihat sebagai mengingkari kewajipan besar yang disyariatkan oleh Allah SWT.

Tetapi bagi pendakwah yang bekerja merawat manusia, ia mungkin akan dilihat sebagai suatu perkembangan yang positif. Meninggalkan ketagihan arak secara harian dan mula mampu memilih waktu tertentu sahaja untuk meminumnya, adalah suatu peningkatan. Self control diri peminum itu mungkin sedang melalui proses membina kekuatan.

Begitu juga dengan orang yang tidak pernah bersolat, mula ‘memberanikan’ diri untuk menghadiri solat Jumaat, ia merupakan proses menjinakkan dirinya dengan sesuatu yang mungkin begitu asing bagi dirinya sebelum ini.

Jiwa Dai’e Otak Faqih, artikel yang saya tulis lama dahulu, sedikit sebanyak menjelaskan persepsi saya tentang hal ini. Seorang Muslim yang berjiwa dai’e, menghargai setiap perkembangan seseorang biar pun masih jauh dari mencapai kesempurnaan. Apa yang dilihat, bukan berapa banyak yang dia belum buat, tetapi berapa banyak yang dia sudah mula laksanakan.

Tetapi…

IDOLA

Saya khuatir apabila mad’u yang berubah-ubah secara beransur ini, adalah seorang public figure yang menjadi idola dan ikutan ramai.

Golongan yang saya maksudkan ini adalah para ARTIS.

Mungkin buruk benar jika saya katakan bahawa, saya lebih suka jika artis-artis ini tidak bertudung, tidak bercakap soal agama dan langsung tiada kelihatan kepedulian mereka terhadap agama. Lantas apabila ada yang berhasrat untuk berhijrah, mereka berhijrah sepenuhnya. Orang tidak merujuk kepada artis untuk mencari contoh beragama.

Kalau ditanya kepada emak saya, tentu ingatan yang tidak mungkin beliau lupakan ialah kehilangan seorang selebriti pembaca berita terkenal di RTM iaitu Wan Chik Daud. Hijrahnya memakai tudung telah ‘mengundurkan’ dirinya dari muncul di kaca televisyen, sedangkan beliau amat dekat di hati masyarakat kerana suaranya yang beraura ketika membaca berita dan mengacarakan majlis, hilang secara tiba-tiba (sehingga kini RTM menjadi satu-satunya stesyen televisyen negara yang masih tidak membenarkan pengacara dan pembaca beritanya memakai tudung).

Tetapi kebelakangan ini, hijrah yang berlaku mula sekerat-sekerat. Khususnya dalam konteks pemakaian tudung.

TUDUNG SILAM

Tidak dapat saya nafikan, bahawa jiwa ini lebih sejahtera ketika orang perempuan kita tidak pandai menggayakan fesyen dengan tudung. Bermula dengan tidak bertudung, kemudian bertudung bawal dan kemudian bertudung labuh serta bulat, dan mungkin sebahagian memilih untuk berpurdah. Terpulang. Tudung di kala itu adalah suatu perjuangan untuk seorang wanita Muslimah membina jati dirinya.

Memakai tudung ialah suatu proses besar yang memerlukan pengorbanan.

Namun tudung mengalami evolusi, seiring dengan nasyid dan ‘perkara-perkara Islam yang lain’ apabila kreativiti ditumpahkan kepadanya supaya tudung jangan lagi dikaitkan dengan imej bosan, tidak menonjol dan distinguished from others. Bertudung tetapi masih boleh kelihatan ‘cantik’. Lantas pelbagai cara pemakaian tudung berlaku, pelbagai fesyen diketengahkan, seiring pula dengan busana Muslim yang terkini, diangkat menjadi industri antarabangsa.

Tetapi di manakah kerisauan saya?

TUDUNG CACAT

Konflik berlaku apabila kita melihat kebelakangan ini, penggayaan fesyen dilabelkan sebagai Islam sedangkan ia amat jauh dari menepati hukum asas Islam. Tudung dipakai sekerat dengan membiarkan bahagian depan terkeluar… ia dikategorikan sebagai Islamik dan sesuai untuk menonjolkan imej seorang Hajjah.

Dari tudung yang cukup untuk melindungi leher dan dada, artis-artis yang telah berhijrah ini mula mengurangkan tudungnya kepada sekadar menutup rambut tetapi dibiarkan telinga, leher dan dada terdedah.

Apabila pakaian-pakaian seperti ini semakin berleluasa, ia menghantar satu mesej yang salah kepada masyarakat. Pemakaian seperti ini dianggap sebagai telah menyelesaikan tuntutan Islam, sedangkan ia masih jauh lagi dari ukuran Islam terhadap apa yang dinamakan sebagai hijab. Lebih khuatir lagi, apabila nama-nama besar dalam industri fesyen memberikan sentuhan mereka untuk mencantikkan lagi ‘pakaian cacat’ ini, dan ia diperagakan atas nama Busana Islam!

Terpulang, jika tudung mahu dihias cantik dengan labuci dan renda. Terpulang jika jubah mahu dibuat dari material hebat seperti French Lace dan sebagainya. Tetapi tudung hanya menjadi tudung apabila ia berjaya melindungi rambut, telinga, leher dan dada seorang wanita yang mahu mentaati Allah di dalam pakaiannya. Jubah hanya menjadi jubah apabila ia berjaya melindungi rupa tubuh seorang perempuan kecuali muka dan tapak tangannya.

Sebagai pendakwah, saya tetap menghargai perubahan beransur yang berlaku dari seorang yang berpakaian seksi kepada berpakaian yang lebih sopan, serta sehelai kain yang diletakkan di atas sebahagian kepala. Dakwah boleh mendefinisikannya sebagai ’suatu perubahan’. Namun untuk difahamkan bahawa pakaian sedemikian adalah fesyen Islam, busana Islam dan sudah memenuhi tuntutan Islam… ia adalah suatu pencemaran kepada kefahaman Islam.

"Wahai orang-orang yang beriman! masuklah kamu ke dalam agama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya; dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; Sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata. [Al-Baqarah 2: 208]"

Saya tidak akan memadamkan catatan pengorbanan Muslimah yang berusaha untuk menutup aurat mereka dengan sempurna hingga diludah di kampus-kampus. Saya tidak akan pencilkan catatan pengorbanan sebahagian artis yang meninggalkan dunia glamour yang melumpuri kehidupan mereka demi untuk menghayati ajaran Islam yang betul. Segala perit pahit mereka tidak harus terpadam oleh fesyen baina-baina (sekerat-sekerat) yang semakin berleluasa sekarang ini.

INPUT PROSES OUTPUT

Juga tidak harus dilupa, tudung itu adalah proses. Sama juga seperti solat dan puasa. Syariat mengkehendaki seorang Muslim dan Muslimah berpakaian dengan pakaian tertentu, melakukan ibadah tertentu, tujuannya adalah untuk memproses hati dan tingkah laku. Memakai tudung bukan tanda seorang itu sudah baik, sebaliknya untuk seseorang memperbaiki diri dia harus memakai tudung dengan sedar (full of consciousness). Bukan dia baik dengan alasan dia bertudung, sebaliknya kalau hendak jadi baik, kenalah bertudung.

Orang yang berpakaian kerana Allah, hanya ada Satu Tuhan yang mahu digembirakannya. Orang yang berpakaian untuk menyedapkan mata manusia memandang, akan menjadi hamba kepada tuhan-tuhan kecil yang mahu digembirakannya.

Apakah nawaitu kepada perubahan itu?


Tulisan : Akhi Ust Hasrizal Abdul Jamil
Saifulislam.com

Bersama Ust Mustapha..



Bersama Ust Mustapha..

Masa mula-mula sampai dulu, saya ingat ust Mus ni garang..( Biasalah..Judge the book by the cover), tapi hakikatnya, jauh berbeza.. Apa yang boleh saya katakan pada Ust Mus ni, sangat caring, rapat dgn student, xsuka marah2, ceria( suka berseloroh) tapi sangat tegas dalam Perkara perkara tertentu...

makan Free.. satu istilah yang paling kerap saya dapat dari ust Mus, terlalu kerap rasanya beliau membelanja saya dan kawan kawan makan.. moga Allah Murahkan Rezeki Ust...
a href="http://1.bp.blogspot.com/_Aj_CAMPAsIs/SMk-dzxy_HI/AAAAAAAAAMI/w6sgG9ET628/s1600-h/DSC07141.JPG">
Berhari raya di rumah Ust




Kenangan Khidmat Masyarakat di KG IBOI


kalaulah kami diberi pilihan..tentu kami xkan benarkan Ust Berpindah ke IP TEKNIK.. tapi apakan daya..Salam Sayang buat Ust Dari saya...Moga Allah Membalas Jasa ust pada Kami..SMP-PA1107

Dé Céadaoin 10 Meán Fómhair 2008

Sejenak bersama Ust Shubki...


Tenang dan penuh tolak ansur..Ust Shubki..bila nak balik ke IPTAR???



Baru sebentar tadi ust Shubki, call saya dan kami berbual agak panjang..sedar tak sedar, dah hampir setahun kami xbertemu..
Saya masih ingat ketika Ust baru sampai di IPTAR, saya dan Roziman adalah antar pelajar lelaki yang pertama bertaaruf dengan Ust.
Kami memang agak sangat rapat dengan ust, Ust Shubki yang kami kenal sangat baik hati, pemurah, dan sgt brtimbang rasa...terlalu banyak kenangan kami bersama Ust, xdapat nak ceritakan dengan tulisan, hanya kuabadikan gambar di laman ini...
Selamat BerMaster buat Ust...


Bersama Ust Shubki...

Ber Udang Galah bersama Ust...

Jamuan Wida' Akhir tahun lepas..

Gambar selepas majlis...

Dé Domhnaigh 7 Meán Fómhair 2008

Sedikit Ujian..

Hari ni, saya diuji Allah dengan sedikit ujian, yang membuatkan seharian kerja saya tertangguh begitu sahaja, badan rasa begitu lemah, bagaikan di ambang untuk mendapat demam, sakit-sakit seluruh badan, pun begitu, Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan diri ini untuk berpuasa dan menunaikan rukun Islam yang ketiga..Lakal Hamdu Ya Rabb...

Saya masih ingat ketika saya menduduki S.P.M sekitar 4 tahun lalu, dalam bulan Ramadhan, diri ini diuji dengan demam yang amat teruk pada hari Paper B.I.. subhanallah, menggigil-gigil tangan ini menjawab soalan ketika english paper 1, akhirnya, teacher Azlina, cikgu B.I saya waktu itu menyuruh saya berbuka sahaja sebelum masuk untuk paper 2..itulah kali terakhir saya xcukup sebulan puasa.


SMA TANWIRIAH..JASAMU TETAP KU KENANG...


Kawan-kawan di IPTAR..BANYAK YANG DAPAT KU PELAJARI...




Syukur pada Allah yang masih menguji diri ini sebagai tanda kasihNYA bagi menyedarkan hambanya yang KERDILdan LEKA ini.. Mudah-mudahan Hati ini di teguhkan dengan Iman...

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Dé hAoine 5 Meán Fómhair 2008

TAZKIRAH RAMADHAN...

5 RACUN DAN 5 PENAWAR :
1. Dunia itu racun, Zuhud itu ubatnya

2. Harta itu racun, Zakat itu ubatnya

3. Perkataan yang sia-sia itu racun, Zikir itu ubatnya

4. Seluruh Umur itu racun, Taat itu ubatnya

5. Seluruh Tahun itu racun, Ramadhan itu ubatnya

LIMA SEBAB HATI BERSINAR..
Pertama, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas habisnya umur yang sia-sia tanpa amal yang bermanfaat.

Kedua, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas maksiat yang tela dikerjakan, sehingga hati menjadi takut kalau hal itu akan menghalangi diri dari masuk surga Allah.

Ketiga, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas tindakan menyia-nyiakan hukum Allah dengan mengambil alih hukum-hukum buatan manusia.

Keempat, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas terhinanya kaum muslimin karena mereka telah dikuasai oleh orang-orang kafir.

Kelima, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas perpecahan yang terjadi di tubuh para 'ulama/da'i-da'i muslim karena egoisme mereka yang hanya sibuk dengan urusan pribadi daripada memikirkan tujuan da'wah yang lebih utama. (Abdul Hamid Al-Bilali, Manhaj Tabi'in fi Tarbiyah An-Nafs)

10 PERINGKAT MENJADI ORANG BERIMAN

1. Tidaklah hamba dilangit dan dibumi tergolong hamba yang beriman, sehingga dia berlaku lembut terhadap manusia .

2. Tidaklah dia termasuk orang yang lembut, sehingga dia menjadi seorang muslim .

3. Tidaklah dia termasuk seorang muslim, sehingga orang lain selamat dari(gangguan) tangan dan lidahnya .

4. Tidaklah dia termasuk seorang muslim, sehingga dia menjadi orang yang alim .

5. Tidaklah dia termasuk orang alim, sehingga dia mengamalkan ilmu nya .

6. Tidaklah dia termasuk orang yang mengamalkan ilmunya, sehingga dia menjadi hamba yang zahid .

7. Tidaklah dia termasuk hamba yang zahid, sehingga dia menjadi hamba yang warak .

8. Tidaklah dia menjadi hamba yang warak sehingga dia menjadi hamba yang merendahkan dirinya .

9. Tidaklah dia tergolong hamba yang merendahkan dirinya, sehingga dia menjadi hamba yang mengenal dirinya .

10. Tidaklah dia tergolong hamba yang mengenal dirinya, sehingga dia menjadi hamba yang berakal dalam percakapannya . (Mafhum hadis Rasulullah s.a.w)


Mudah Mudahan bermanfaat untuk rakan-rakan..Andai ada kesilapan maklumat dalam blog ini, Tegurlah dan baikilah Hamba yang Kerdil ini...

HAMBA KERDIL
MOHD SYAHID ADAM



"Bertemu tek Jemu berpisah tidak Gelisah"

kalau di perhatikan lirik lagu "ritma kehidupan" dari kumpulan hijjaz ni, memeang amat2 mendalam maksudnya. Wallahua'lam, entah kenapa saya terasa bahawa Allah S.W.T memang telah menyususun dengan teliti, kebaikan-kebaikan yang akan saya dapat sepanjang berada di Bumi Kenyalang ini..
malam tadi saya termenung seketika, memikirkan Naqib yang kami sayangi, Ust Saiful Azhar akan berpindah ( balik ke semenanjung) untuk menyambung pengajiannya, saya teringat waktu kami mula-mula sampai Ke Kota samarahan ni, sekitar bulan julai 2005, Ust zaiful, antara org yg paling awal menjaga kami, selain dari Ust Mustapha kamal.


Jauh betul bezanya=)

saya secara peribadi agak rapat dengan ust, mungkin sebab beliau tinggal bersama kami di asrama ( Ust Saiful adalah Pelatih J-qaf 2005-2006) dan sebab saya selalu pinjam motor kot, cuma, dalam masa 4 thn ni, terlalu bnyk Ilmu Allah yang saya kutip dari Ust, Syukran Ust..

Betul kata pepatah, keakraban akan memberi kesedihan..saya doakan Ust terus berjaya, dan berbahagia bersama Isteri...

HAMBA KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Dé Céadaoin 3 Meán Fómhair 2008

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."
Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

UTUSAN BUAT TEMAN SEPERJUANGAN…

BISMILAHIRRAHMAANIRRAHIM
Segala pujian bagi ALLAH, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Maha Besar Allah menjadi bumi ini dengan penuh Kebijaksanaan dan Kebesaran-Nya. Tidak dapat diungkapkan kesyukuran dengan hanya mengatakan “Allhamdulillah” sahaja tanpa mengamalkan segala Ad-din Allah dengan segala perubatan yang telah digariskan oleh Pemerintah alam. Tidak cukup lagi dengan bumi Allah menjadikan langit sebagai pelengkap tanpa bertiang, supaya manusia berfikir. Lalu langit itu dihiasi bintang-bintang berkelipan dan bulan menyinari alam, juga matahari pemberi cahaya pada waktu siang. Malam dan siang pula amat berlainan peranannya. Pada waktu siang berkerjalah manusia untuk mencari nafkah, setelah penat lelah maka manusia letihlah sekali lagi dengan sifat Rahman-Nya, Dia menjadikan malam itu untuk berehat tanpa meminta gaji atau balasan. Semuanya di beri percuma. Tahukah nikmat malam itu, ketahuilah nikmat malam amat besar kepada manusia. Dalam bidang perubatan malam itu akan merehatkan manusia dan mengumpulkan tenaga semulajadi, menghapuskan toksik setelah sistem Endokrin berkerja keras menghadapi tekanan semasa siang tadi. Tidakkah manusia itu memikirkannya. Banyak lagi nikmat-Nya yang tidak dapat dihitungkan yang diberikan oleh Pemerintah Alam ini. Semuanya di bawah Jagaan-Nya terpulang pada-Nya untuk memerintah.

Walaupun sebegitu ramai manusia yang kufur kepada nikmat-Nya, lalu manusia itu berpalinglah daripada jalan yang lurus. Anak perempuan dibunuh, dengan alasan mereka malu mempunyai anak perempuan. Jika seorang bapa mendapat tahu bahawa isterinya melahirkan anak perempuan, hitamlah muka si bapa dan berdukacita, jauh dilubuk hatinya amat bersedih dan sehingga menanam anak perempuan itu hidup-hidup di tanah. Lalu menjeritlah si anak perempuan “Ayah apa salahku ayah” sambil anak itu menitiskan air mata. Tidak cukup lagi dengan kejahilan itu manusia menjadikan wanita itu hamba nafsunya, menjadi hamba dan berTuhan kepada nafsu diri mereka, menyembah berhala dan bermacam-macam lagi perkara yang tidak masuk akal dilakukan oleh mereka sehingga aku sukar untuk mengungkapkan kejahilian manusia itu.

Namun sekali lagi Allah SWT menolong manusia dengan mengutuskan seorang pesuruh-Nya sebagai tanda kasih sayang-Nya kepada hamba. Siapakah utusan itu? Sudah pasti dia adalah seorang yang lemah lembut, teguh hatinya, baik tutur katanya, mulia akhlaknya dan pasti menjadi ikutan untuk kebahagian dunia dan Akhirat. Diberitakan namanya oleh Isa anak mariam sebagai “Ahmad.” Disebut oleh kita Muhammad SAW yang bererti “Keamanan dan sejahtera.” Maka itu wahai saudara-saudara muslim hendaklah kita mengikuti jejak Nabi kita. Cintailah Nabi kita lebih daripada kita mencintai diri kita, kalau tidak sampai ke arah teruskan sehingga kita sampai ke tahap itu.

Saudara-saudara muslim, ketahuilah aku tidak menulis melainkan setelah hati menjadi tenang jika tidak tenang necaya tidak aku menulis buku untuk saudara-saudaraku. Tetapi hati ini telah menjadi tenang dan masih ada cahaya Allah di dalam dada ini, amat sedikit wahai saudaraku cahaya itu, namun aku takut terpadam jika terpadam tidaklah aku mengenali Allah SWT. Yang amat ditakuti apabila aku tidak tidak dapat menyampaikan apa yang diperhati dan pengalamanku semasa menjadi pimpinan JIK dan Politik. Biarlah aku mengemukakan pemerhatian ini supaya menjadi satu landasan dan rujukan kepada saudara-saudaraku yang duduk di JIK sekarang ini untuk memeperbaiki kelemahan-kelamahan pada masa dahulu. Ketahuilah saudara-saudaraku buku ini disiapkan olehku berdasarkan ilmu dan pengalaman yang sebenarnya, bukanya aku mereka-reka. Mudah-mudahan akan beratlah timbanganku di masa akhirat kerana sedikit tulisan ini. Aku mohon maaf seandainya terdapat kritikan menyetuh hati saudara-saudaraku dan mohon ampun kepada Allah SWT. Sesungguhnya aku mengharapkan redha Allah SWT dan diberi petunjuk untuk menyiapkan dan menyampaikan “UTUSAN BUAT TEMAN SEPERJUANGAN” ini.INSYAALLAH.

-Di petik dari artikel
UTUSAN BUAT TEMAN SEPERJUANGAN…

Menarik untuk kita renungi..ketuklah pintu hati kita..Demi Sebuah Hidayah..

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Tangisan Seorang Rasul...

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkansalam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mataDan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan."Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka."Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengerang, kerana sakit yang tidaktertahankan lagi.“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut inikepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dandadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendakmembisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya."Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Saudaraku...berapa ramaikah antara kita yang menangis lantaran kerana menonton filem sedih? tapi pernahkah kita menangis mengenangkan betapa suci dan agungnya CINTA Rasulullah kepada kita...CINTAILAH..CINTAILAH.. baginda kerana Syafaat baginda yang kita harapkan..di Yaumil Mahsyar...

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Dé Máirt 2 Meán Fómhair 2008

Terbaliknya orang kita...

Ramadhan sudah masuk hari yang ke 3, Alhamdulillah, sempurna sudah dua hari berpuasa,begitu pantas masa berlalu...
aku rasa terpanggil untuk menulis tentang para ini sebab, rasa terpanggil untuk menyentuh dan memperbertulkan beberapa perkara, amalan orang kita yang terbalik pada bulan Ramadhan...
saban tahun, setiap kali Ramadhan,beberapa keanehan yang biasanya berlaku, akan tetap berlaku, aku hanya nak sentuh beberapa perkara...

1. Selalunya orang kita ni, semmua nak bangun sahur, takut terlalu lapar bila puasa \ nanti, Alhamdulillah, syukur, berlumba-lumba amal sunnah Rasullullah..
Tapi yang peliknya, ramai yang lepas sahur, tertidur krana terlalu kenyang..
Peliknya.. terlepas solat subuh berjamaah..sunnah yang lebih diutamakan Rasul,
(aku takut terlepas waktu subuh yang wajib) kerna mengejar pahala sunat..
Na'uzubillah.

2. orang kita ni..kalau puasa..pagi-pagi lagi dah fikir apa lauk nak buat berbuka..
(tu xpa lagi..) tapi sayangnya..penat puasa sehari..penghujungnya..berakhir di
ramadhan, yang penuh dengan pemandangan yang menjolok mata..sedihnya..nasib orang
kita...



Jangan cacatkan Ramadhan Kita..( Kenangan berbuka Puasa Tahun lepas)
3.

3. Berpuasa..tapi xsolat...

Ini satu lagi yang pelik bin ajaib, tapi itulah hakikat yang berlaku
sekarang.. Puasa separuh mati..tapi solat di tinggal..ini saya umpamakan,
macam orang yang hendak membina rumah tanpa tiang..pasti akan nampak jelas
kebodohannya..

Saudara-saudaraku..banyak lagi kesalahan dan kesilapan orang kita dalam Ibadah ni..marilah sama-sama kita baiki..Ingatlah Sabda Rasul S.A.W mafhumnya ;
"kadangkala orang yang berpuasa itu tiada mendapat apa-apa dari puasanya selain Lapar dan dahaga'

Baikilah puasa kita bersama..mudah-mudahan Objektif " La'allakum Tattaquun " itu tercapai.

HAMBA YANG KERDIL...
MOHD SYAHID ADAM

Indahnya Ramadhan...





Solat Tarawih di P.P.I IPTAR..
2 Ramadhan 1429 Hijrah
Imam dan Tazkirah : Ust Saiful Azhar Zainal Abidin

Dé Luain 1 Meán Fómhair 2008

Tilawahlah Daku...


1. Firman Allah Ta'ala: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89),

2. Firman Allah Ta'ala: “.... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma'idah: 15-16).

3. Firman Allah Ta'ala: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57).

4. Sabda Rasulullah s.a.w.: "Bacalah Al-Qur'an, kerana ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya." (HR. Muslim dari Abu Umamah).

5. Dari An-Nawwas bin Sam'an r.a., katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur'an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surah ini." (HR, Muslim).

6. Dari Utsman bin Affan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhar)

7. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).

8. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash r.a.ma, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dikatakan kepada pembaca Al-Qur'an: "Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, kerana kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).

9. Dari Aisyah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala." (Hadits Muttafaq 'Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

10. Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, iaitu: orang yang dikurniai Allah Al-Qur'an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikurniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang" (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Yang dimaksud hasut di sini iaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469.)

Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki anda kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta'ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur'an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derjat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah s.a.w. dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur'an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

a href="http://2.bp.blogspot.com/_Aj_CAMPAsIs/SLu-nhpS7II/AAAAAAAAAIo/C-pIN1Fgchg/s1600-h/DSC06206.JPG">
Tadarus..Cahaya Ramadhan..

Dan perlu anda ketahui, bahawa membaca Al-Qur'an yang berguna bagi pembacanya, iaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Qur'an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur'an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya). Firman Allah Ta'ala:

Perutusan Khas Ramadhan

Alhamdulillah kita dipertemukan kembali dengan bulan penuh rahmat dan keampunan daripada Allah Subhanawataala. Saya merakamkan ucapan selamat menyambut Ramadan al-Mubarak kepada seluruh rakyat Malaysia dan umat Islam di pelusuk dunia.

Menjadi kebiasaan kita orang Melayu mengenali Ramadan sebagai bulan puasa. Tanpa disedari sebutan yang sudah lama berakar umbi itu tidak tepat dengan pengertian sebenar Ramadan.


Hiasilah Rumah Allah dengan IBadah..

Ramadan bukan sekadar dihiasi dengan ibadat puasa yakni menahan diri daripada makan, minum dan apa sahaja yang membatalkan puasa kerana takrifan sebenarnya lebih luas lagi.




Puasa juga sebenarnya boleh dilakukan pada bulan lain, seperti yang menjadi amalan sesetengah daripada kita iaitu bulan Rejab dan Syaaban. Sebab itulah penggunaan istilah Ramadan lebih tepat bagi menggambarkan maksud dalam melaksanakan amal ibadat sepanjang bulan penuh berkat ini.

Ramadan juga membawa maksud bulan kebajikan di mana di dalamnya ada zakat fitrah yang menjadi kewajiban dilaksanakan setiap umat Islam. Umat Islam amat digalakkan bersedekah sebagai melengkapkan amalan ibadat puasa kita di siang hari.

Ini kerana di sekeliling kita ada mereka yang kurang bernasib baik. Maka pada kesempatan ini kita hulurkan sedikit sumbangan kepada mereka.

Oleh itu saya mengajak umat Islam menggunakan kesempatan Ramadan kali ini bagi menggandakan amal ibadat serta memohonkan keampunan daripada Allah Taala