Dé Céadaoin 17 Nollaig 2008

Dé Luain 15 Meán Fómhair 2008

Bencana Atau Azab??????

Oleh: Mochamad Bugi

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)

Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.

1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-benar beriman atau tidak.

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)

2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)

3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt.

Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al-Qashas: 40)

4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt.

Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).

5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab

Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan kerugian yang besar –seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– sering muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan dari Allah?

Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.

Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).

Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.

Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.

Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.

Sebab-sebab Terjadinya Bencana

Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Silakan simak beberapa data di bawah ini.

Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).
Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”

Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.

Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91)

Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)

Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.

Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita. Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!

Pengajaran Dari Paku...

Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan seruan agama. Meskipun telah banyak berbuih ajakan dan nasihat, seruan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain, dia tetap meninggalkannya. Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi rutinitasnya.

Suatu hari seorang ikhwah tersebut memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini". Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.

Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Maka dia pun beniat untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan aku akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?" Mat merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis tersedak-sedak. "Kenapa anakku?" tanya ayahnya, "Aku menyangka kau gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada". Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, "Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya".

Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.

Sumber : Kisah Orang-Orang Taubat - Pondok Pesantren Nurul Huda

Déardaoin 11 Meán Fómhair 2008

Pengajaran Di Balik Teguran Allah

tulisan : Ust Abdullah Yasin

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (١) قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢) وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣) إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِن تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (٤) عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (٥)
Terjemahan:

(1) Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(2) Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

(3) Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

(4) Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

(5) Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

(At-Tahrim: 1-5)




Sebab Turun Ayat:

Aisyah (ra) berkata: Adalah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sanagat suka kepada manisan (halwa) dan madu (‘asl). Biasanya jika selesai solat ‘Ashr beliau akan memasuki rumah isteri-isterinya dan ketika itu giliran Zainab Binti Jahsy. Baginda Rasul (sallallahu alaihi wasalam) minum madu di rumahnya. Lalu akupun bersepakat dengan Hafsah yakni jika baginda memasuki rumah di antara kita hendaklah kita mengatakan kepadanya: Saya tercium bau “maghaafir” (sejenis tumbuhan yang tumbuh di Hijaz rasanya manis tetapi mengeluarkan bau busuk), apakah tuan telah makan maghaafir? Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: Tidak, aku hanya minum madu di rumah Zainab Binti Jahsy dan aku bersumpah tidak akan minum madu lagi, dan jangan engkau ceritakan perkara ini kepada siapapun”.

[HR Bukhari dan Muslim]




Tafsiran Ayat:

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?

Maksudnya: Wahai Nabi, mengapa engkau enggan minum madu yang telah dihalalkan oleh Allah untukmu, malahan sanggup bersumpah untuk itu, hanya semata-mata ingin mendapat keredaan dan meneyenangkan hati sebagian isteri-isterimu?

Ini adalah tegoran langsung daripada Allah ke atas NabiNya yang telah berbuat demikian. Karena motif beliau berbuat demikian bukanlah dengan tujuan yang diredai Allah, tetapi hanya mencari keredaan sebagian isteri-isterinya.




Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maksudnya: Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hambaNya yang mahu bertobat. Dan Allah SWT telahpun mengampuni engkau di atas keenggananmu terhadap apa yang telah dihalalkanNya itu. Dan Dia Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang tobat sehingga Dia tidak akan menyiksa mereka karena dosa-dosa yang telah berlalu.




Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada kita agar membebaskan diri kita daripada sumpah yang telah kita ucapkan dengan membayar kaffarat sumpah iaitu salah satu dari tiga perkara berikut:

Memberi makan kepada 10 orang miskin
Memberi pakaian kepada 10 orang miskin
Memerdekakan seorang budak (hamba sahaya)


Dan jika tidak mampu melakukan salah satu daripada tiga perkara di atas maka hendaklah ia berpuasa selama 3 hari. Penjelasan tentang kaffarat sumpah ini boleh didapati pada ayat (89) Surah Al-Maidah. Lihat Fiqh As-Sunnah Jld. III Hal. 24-25.

Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah membebaskan sumpah beliau itu dengan memerdekakan seorang hamba sahaya.




Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah)

Maksudnya: Nabi (sallallahu alaihi wasalam) meminta kepada Hafsah agar merahasiakan peristiwa di atas (lihat sebab turun ayat) dan jangan diceritakan kepada sesiapapun. Tetapi Hafsah telah menceritakan semua rahasia itu kepada Ausyah. Allah Yang Maha Mengetahui telah memberitahukan kepada Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tentang pakatan rahasia antara Hafsah dengan Aisyah. Lalu Nabi pun menceritakan sebagian saja kepada Hafsah daripada apa yang telah diberitahukan Allah SWT kepadanya. Dan menyembunyikan sebagian yang lain.




Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Maksudnya: Ketika Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menceritakan kepada Hafsah tentang apa yang telah mereka sepakati dan sebahagian pembicaraan antara mereka berdua, maka Hafsah dengan rasa heran dan terkejut lalu bertanya: Siapakah yang telah menceritakan kepada tuan tentang perkara ini? Hafsah (ra) mengira Aisyah (ra) telah membocorkan rahasia mereka berdua. Lalu Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjawab: “Yang memberitahukan kepadaku ialah Allah Yang Maha Menegtahui segala-galanya, samada yang besar ataupun yang kecil; Yang Maha Mengenal, samada di bumi ataupun yang di langit”.




Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula

Maksdunya: Ayat ini ditujukan kepada Hafsah dan Aisyah agar mereka berdua bertobat kepada Allah terhadap dosa mereka dan supaya mereka berdua berhenti daripada menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam). Mereka hendaknya menyukai apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) sukai dan benci apa yang Nabi (sallallahu alaihi wasalam) benci. Sekiranya meeka berbuat demikian (tobat) maka itu bermakna hati mereka condong kepada kebenaran (haq) dan kebaikan (khair).

Ibnu Abbas menceritakan bahwa ia sangat ingin bertanya kepada Umar Ibnu Al-Khattab untuk mengetahui siapakah yang dimaksudkan dengan dua isteri Rasul itu. Sehingga beliau turut pergi haji ketika umar haji. Ketika Umar turun untuk berwudhu’ beliau cepat-cepat tolong menjirus air untuk Umar berwudhu’ sambil bertanya: “Ya Amiral Mukminin, siapakah dua wanita dari isteri-isteri Rasul (sallallahu alaihi wasalam) yang dimaksudkan dalam firman Allah: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah…? Lalu Umar menjawab: Sungguh heran engkau ini wahai Abbas, mereka berdua itu adalah Aisyah dan Hafsah”.

Dalam ayat di atas juga Allah memberi amaran kerasNya bahwa jika pakatan untuk menyusahkan Nabi (sallallahu alaihi wasalam) diteruskan juga seperti cemburu yang keterlaluan dan menyebarkan rahasia Nabi maka Allah tetap akan melindungi RasulNya, begitu juga Jibril, orang-orang mukmin yang baik dan para malaikatNya yang lain.




Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan

Maksudnya: Sekiranya Nabi mengambil keputusan untuk menceraikan isteri-isterinya yang selalu menyusahkannya, maka Allah berjanji akan menggantikan untuk Nabi (sallallahu alaihi wasalam) isteri-isteri yang lebih baik yang mempunyai sifat-sifat terpuji antaranya: patuh, beriman, taat, selalu bertobat, banyak beribadat, berpuasa dan lain-lain lagi sifat-sifat mulia.



Kesimpulan:

1. Kita para suami dilarang oleh Allah untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah SWT hanya sekedar ingin mendapat simpati dan menyenangkan hati isteri. Apalgi sampai sanggup untuk memutuskan hubungan silaturrahim dengan ibu bapa dan kaum kerabat. Ingat kisah benar: “ ‘Al-Qamah” yang susah mengucap “dua kalimah syahadat” menjelang wafatnya sebab ia telah melukakan hati ibunya karena terlalu sayang pada isterinya.

2. Tidak menjadi kesalahan jika kita menyimpan rahasia kepada seseorang iateri atau teman yang dipercayai. Dan orang berkenaan mestilah menyimpan rahasia itu dengan baik.

3. Suami hendaklah menegor sikap isteri yang kurang baik itu dengan bijak dan lemah lembut. Dan dalam hal ini suami dinasehatkan jangan hanya melihat kesalahan isterinya, akan tetapi juga mestilah melihat kebaikan-kebaikan isterinya.

4. Cemburu sudah menjadi fitrah atau sifat semulajadi bagi setiap wanita. Sifat tersebut tidak mengurangi iman mereka asalkan tidak keterlaluan.

5. Jaminan pertolongan dan perlindungan daripada Allah untuk NabiNya menunjukkan bahwa pakatan dan rencana jahat sesetengah wanita itu adalah suatu cobaan besar bagi para suami.

6. Dalam ayat (5) Allah SWT secara tidak langsung telah mendedahkan beberapa sifat utama bagi wanita yang salehah, iaitu:

i. Mereka patuh
ii. Mereka beriman
iii. Mereka taat
iv. Mereka bertaubat
v. Mereka banyak beribadat
vi. Mereka berpuasa

-Mudah Mudahan bermanfaat buat diri yang lemah dan hina ini...

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Sekerat Islam...

“Dia sudah kurangkan minum araknya dari siang malam pagi petang, kepada meminumnya hanya untuk sesekali menghilangkan ketagihan!”, kata si A.

“Rasanya saya ada nampak dia pergi masjid untuk sembahyang Jumaat. Ok la tu, at least dia sudah mula sembahyang”, ujar si B tentang rakannya.

HUKUM VS DAKWAH

Perkembangan separuh-separuh begitu, akan dibalas bergantung kepada persepsi seseorang. Jika kita melihatnya dari kacamata hukum, maka minum arak sesekali tiada bezanya dengan minum arak sentiasa. Dia tetap seorang peminum arak. Orang yang hanya bersembahyang Jumaat dengan meninggalk stan sembahyang fardhu yang lima secara harian itu, tetap dilihat sebagai mengingkari kewajipan besar yang disyariatkan oleh Allah SWT.

Tetapi bagi pendakwah yang bekerja merawat manusia, ia mungkin akan dilihat sebagai suatu perkembangan yang positif. Meninggalkan ketagihan arak secara harian dan mula mampu memilih waktu tertentu sahaja untuk meminumnya, adalah suatu peningkatan. Self control diri peminum itu mungkin sedang melalui proses membina kekuatan.

Begitu juga dengan orang yang tidak pernah bersolat, mula ‘memberanikan’ diri untuk menghadiri solat Jumaat, ia merupakan proses menjinakkan dirinya dengan sesuatu yang mungkin begitu asing bagi dirinya sebelum ini.

Jiwa Dai’e Otak Faqih, artikel yang saya tulis lama dahulu, sedikit sebanyak menjelaskan persepsi saya tentang hal ini. Seorang Muslim yang berjiwa dai’e, menghargai setiap perkembangan seseorang biar pun masih jauh dari mencapai kesempurnaan. Apa yang dilihat, bukan berapa banyak yang dia belum buat, tetapi berapa banyak yang dia sudah mula laksanakan.

Tetapi…

IDOLA

Saya khuatir apabila mad’u yang berubah-ubah secara beransur ini, adalah seorang public figure yang menjadi idola dan ikutan ramai.

Golongan yang saya maksudkan ini adalah para ARTIS.

Mungkin buruk benar jika saya katakan bahawa, saya lebih suka jika artis-artis ini tidak bertudung, tidak bercakap soal agama dan langsung tiada kelihatan kepedulian mereka terhadap agama. Lantas apabila ada yang berhasrat untuk berhijrah, mereka berhijrah sepenuhnya. Orang tidak merujuk kepada artis untuk mencari contoh beragama.

Kalau ditanya kepada emak saya, tentu ingatan yang tidak mungkin beliau lupakan ialah kehilangan seorang selebriti pembaca berita terkenal di RTM iaitu Wan Chik Daud. Hijrahnya memakai tudung telah ‘mengundurkan’ dirinya dari muncul di kaca televisyen, sedangkan beliau amat dekat di hati masyarakat kerana suaranya yang beraura ketika membaca berita dan mengacarakan majlis, hilang secara tiba-tiba (sehingga kini RTM menjadi satu-satunya stesyen televisyen negara yang masih tidak membenarkan pengacara dan pembaca beritanya memakai tudung).

Tetapi kebelakangan ini, hijrah yang berlaku mula sekerat-sekerat. Khususnya dalam konteks pemakaian tudung.

TUDUNG SILAM

Tidak dapat saya nafikan, bahawa jiwa ini lebih sejahtera ketika orang perempuan kita tidak pandai menggayakan fesyen dengan tudung. Bermula dengan tidak bertudung, kemudian bertudung bawal dan kemudian bertudung labuh serta bulat, dan mungkin sebahagian memilih untuk berpurdah. Terpulang. Tudung di kala itu adalah suatu perjuangan untuk seorang wanita Muslimah membina jati dirinya.

Memakai tudung ialah suatu proses besar yang memerlukan pengorbanan.

Namun tudung mengalami evolusi, seiring dengan nasyid dan ‘perkara-perkara Islam yang lain’ apabila kreativiti ditumpahkan kepadanya supaya tudung jangan lagi dikaitkan dengan imej bosan, tidak menonjol dan distinguished from others. Bertudung tetapi masih boleh kelihatan ‘cantik’. Lantas pelbagai cara pemakaian tudung berlaku, pelbagai fesyen diketengahkan, seiring pula dengan busana Muslim yang terkini, diangkat menjadi industri antarabangsa.

Tetapi di manakah kerisauan saya?

TUDUNG CACAT

Konflik berlaku apabila kita melihat kebelakangan ini, penggayaan fesyen dilabelkan sebagai Islam sedangkan ia amat jauh dari menepati hukum asas Islam. Tudung dipakai sekerat dengan membiarkan bahagian depan terkeluar… ia dikategorikan sebagai Islamik dan sesuai untuk menonjolkan imej seorang Hajjah.

Dari tudung yang cukup untuk melindungi leher dan dada, artis-artis yang telah berhijrah ini mula mengurangkan tudungnya kepada sekadar menutup rambut tetapi dibiarkan telinga, leher dan dada terdedah.

Apabila pakaian-pakaian seperti ini semakin berleluasa, ia menghantar satu mesej yang salah kepada masyarakat. Pemakaian seperti ini dianggap sebagai telah menyelesaikan tuntutan Islam, sedangkan ia masih jauh lagi dari ukuran Islam terhadap apa yang dinamakan sebagai hijab. Lebih khuatir lagi, apabila nama-nama besar dalam industri fesyen memberikan sentuhan mereka untuk mencantikkan lagi ‘pakaian cacat’ ini, dan ia diperagakan atas nama Busana Islam!

Terpulang, jika tudung mahu dihias cantik dengan labuci dan renda. Terpulang jika jubah mahu dibuat dari material hebat seperti French Lace dan sebagainya. Tetapi tudung hanya menjadi tudung apabila ia berjaya melindungi rambut, telinga, leher dan dada seorang wanita yang mahu mentaati Allah di dalam pakaiannya. Jubah hanya menjadi jubah apabila ia berjaya melindungi rupa tubuh seorang perempuan kecuali muka dan tapak tangannya.

Sebagai pendakwah, saya tetap menghargai perubahan beransur yang berlaku dari seorang yang berpakaian seksi kepada berpakaian yang lebih sopan, serta sehelai kain yang diletakkan di atas sebahagian kepala. Dakwah boleh mendefinisikannya sebagai ’suatu perubahan’. Namun untuk difahamkan bahawa pakaian sedemikian adalah fesyen Islam, busana Islam dan sudah memenuhi tuntutan Islam… ia adalah suatu pencemaran kepada kefahaman Islam.

"Wahai orang-orang yang beriman! masuklah kamu ke dalam agama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya; dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; Sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata. [Al-Baqarah 2: 208]"

Saya tidak akan memadamkan catatan pengorbanan Muslimah yang berusaha untuk menutup aurat mereka dengan sempurna hingga diludah di kampus-kampus. Saya tidak akan pencilkan catatan pengorbanan sebahagian artis yang meninggalkan dunia glamour yang melumpuri kehidupan mereka demi untuk menghayati ajaran Islam yang betul. Segala perit pahit mereka tidak harus terpadam oleh fesyen baina-baina (sekerat-sekerat) yang semakin berleluasa sekarang ini.

INPUT PROSES OUTPUT

Juga tidak harus dilupa, tudung itu adalah proses. Sama juga seperti solat dan puasa. Syariat mengkehendaki seorang Muslim dan Muslimah berpakaian dengan pakaian tertentu, melakukan ibadah tertentu, tujuannya adalah untuk memproses hati dan tingkah laku. Memakai tudung bukan tanda seorang itu sudah baik, sebaliknya untuk seseorang memperbaiki diri dia harus memakai tudung dengan sedar (full of consciousness). Bukan dia baik dengan alasan dia bertudung, sebaliknya kalau hendak jadi baik, kenalah bertudung.

Orang yang berpakaian kerana Allah, hanya ada Satu Tuhan yang mahu digembirakannya. Orang yang berpakaian untuk menyedapkan mata manusia memandang, akan menjadi hamba kepada tuhan-tuhan kecil yang mahu digembirakannya.

Apakah nawaitu kepada perubahan itu?


Tulisan : Akhi Ust Hasrizal Abdul Jamil
Saifulislam.com

Bersama Ust Mustapha..



Bersama Ust Mustapha..

Masa mula-mula sampai dulu, saya ingat ust Mus ni garang..( Biasalah..Judge the book by the cover), tapi hakikatnya, jauh berbeza.. Apa yang boleh saya katakan pada Ust Mus ni, sangat caring, rapat dgn student, xsuka marah2, ceria( suka berseloroh) tapi sangat tegas dalam Perkara perkara tertentu...

makan Free.. satu istilah yang paling kerap saya dapat dari ust Mus, terlalu kerap rasanya beliau membelanja saya dan kawan kawan makan.. moga Allah Murahkan Rezeki Ust...
a href="http://1.bp.blogspot.com/_Aj_CAMPAsIs/SMk-dzxy_HI/AAAAAAAAAMI/w6sgG9ET628/s1600-h/DSC07141.JPG">
Berhari raya di rumah Ust




Kenangan Khidmat Masyarakat di KG IBOI


kalaulah kami diberi pilihan..tentu kami xkan benarkan Ust Berpindah ke IP TEKNIK.. tapi apakan daya..Salam Sayang buat Ust Dari saya...Moga Allah Membalas Jasa ust pada Kami..SMP-PA1107

Dé Céadaoin 10 Meán Fómhair 2008

Sejenak bersama Ust Shubki...


Tenang dan penuh tolak ansur..Ust Shubki..bila nak balik ke IPTAR???



Baru sebentar tadi ust Shubki, call saya dan kami berbual agak panjang..sedar tak sedar, dah hampir setahun kami xbertemu..
Saya masih ingat ketika Ust baru sampai di IPTAR, saya dan Roziman adalah antar pelajar lelaki yang pertama bertaaruf dengan Ust.
Kami memang agak sangat rapat dengan ust, Ust Shubki yang kami kenal sangat baik hati, pemurah, dan sgt brtimbang rasa...terlalu banyak kenangan kami bersama Ust, xdapat nak ceritakan dengan tulisan, hanya kuabadikan gambar di laman ini...
Selamat BerMaster buat Ust...


Bersama Ust Shubki...

Ber Udang Galah bersama Ust...

Jamuan Wida' Akhir tahun lepas..

Gambar selepas majlis...

Dé Domhnaigh 7 Meán Fómhair 2008

Sedikit Ujian..

Hari ni, saya diuji Allah dengan sedikit ujian, yang membuatkan seharian kerja saya tertangguh begitu sahaja, badan rasa begitu lemah, bagaikan di ambang untuk mendapat demam, sakit-sakit seluruh badan, pun begitu, Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan diri ini untuk berpuasa dan menunaikan rukun Islam yang ketiga..Lakal Hamdu Ya Rabb...

Saya masih ingat ketika saya menduduki S.P.M sekitar 4 tahun lalu, dalam bulan Ramadhan, diri ini diuji dengan demam yang amat teruk pada hari Paper B.I.. subhanallah, menggigil-gigil tangan ini menjawab soalan ketika english paper 1, akhirnya, teacher Azlina, cikgu B.I saya waktu itu menyuruh saya berbuka sahaja sebelum masuk untuk paper 2..itulah kali terakhir saya xcukup sebulan puasa.


SMA TANWIRIAH..JASAMU TETAP KU KENANG...


Kawan-kawan di IPTAR..BANYAK YANG DAPAT KU PELAJARI...




Syukur pada Allah yang masih menguji diri ini sebagai tanda kasihNYA bagi menyedarkan hambanya yang KERDILdan LEKA ini.. Mudah-mudahan Hati ini di teguhkan dengan Iman...

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Dé hAoine 5 Meán Fómhair 2008

TAZKIRAH RAMADHAN...

5 RACUN DAN 5 PENAWAR :
1. Dunia itu racun, Zuhud itu ubatnya

2. Harta itu racun, Zakat itu ubatnya

3. Perkataan yang sia-sia itu racun, Zikir itu ubatnya

4. Seluruh Umur itu racun, Taat itu ubatnya

5. Seluruh Tahun itu racun, Ramadhan itu ubatnya

LIMA SEBAB HATI BERSINAR..
Pertama, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas habisnya umur yang sia-sia tanpa amal yang bermanfaat.

Kedua, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas maksiat yang tela dikerjakan, sehingga hati menjadi takut kalau hal itu akan menghalangi diri dari masuk surga Allah.

Ketiga, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas tindakan menyia-nyiakan hukum Allah dengan mengambil alih hukum-hukum buatan manusia.

Keempat, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas terhinanya kaum muslimin karena mereka telah dikuasai oleh orang-orang kafir.

Kelima, hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas perpecahan yang terjadi di tubuh para 'ulama/da'i-da'i muslim karena egoisme mereka yang hanya sibuk dengan urusan pribadi daripada memikirkan tujuan da'wah yang lebih utama. (Abdul Hamid Al-Bilali, Manhaj Tabi'in fi Tarbiyah An-Nafs)

10 PERINGKAT MENJADI ORANG BERIMAN

1. Tidaklah hamba dilangit dan dibumi tergolong hamba yang beriman, sehingga dia berlaku lembut terhadap manusia .

2. Tidaklah dia termasuk orang yang lembut, sehingga dia menjadi seorang muslim .

3. Tidaklah dia termasuk seorang muslim, sehingga orang lain selamat dari(gangguan) tangan dan lidahnya .

4. Tidaklah dia termasuk seorang muslim, sehingga dia menjadi orang yang alim .

5. Tidaklah dia termasuk orang alim, sehingga dia mengamalkan ilmu nya .

6. Tidaklah dia termasuk orang yang mengamalkan ilmunya, sehingga dia menjadi hamba yang zahid .

7. Tidaklah dia termasuk hamba yang zahid, sehingga dia menjadi hamba yang warak .

8. Tidaklah dia menjadi hamba yang warak sehingga dia menjadi hamba yang merendahkan dirinya .

9. Tidaklah dia tergolong hamba yang merendahkan dirinya, sehingga dia menjadi hamba yang mengenal dirinya .

10. Tidaklah dia tergolong hamba yang mengenal dirinya, sehingga dia menjadi hamba yang berakal dalam percakapannya . (Mafhum hadis Rasulullah s.a.w)


Mudah Mudahan bermanfaat untuk rakan-rakan..Andai ada kesilapan maklumat dalam blog ini, Tegurlah dan baikilah Hamba yang Kerdil ini...

HAMBA KERDIL
MOHD SYAHID ADAM



"Bertemu tek Jemu berpisah tidak Gelisah"

kalau di perhatikan lirik lagu "ritma kehidupan" dari kumpulan hijjaz ni, memeang amat2 mendalam maksudnya. Wallahua'lam, entah kenapa saya terasa bahawa Allah S.W.T memang telah menyususun dengan teliti, kebaikan-kebaikan yang akan saya dapat sepanjang berada di Bumi Kenyalang ini..
malam tadi saya termenung seketika, memikirkan Naqib yang kami sayangi, Ust Saiful Azhar akan berpindah ( balik ke semenanjung) untuk menyambung pengajiannya, saya teringat waktu kami mula-mula sampai Ke Kota samarahan ni, sekitar bulan julai 2005, Ust zaiful, antara org yg paling awal menjaga kami, selain dari Ust Mustapha kamal.


Jauh betul bezanya=)

saya secara peribadi agak rapat dengan ust, mungkin sebab beliau tinggal bersama kami di asrama ( Ust Saiful adalah Pelatih J-qaf 2005-2006) dan sebab saya selalu pinjam motor kot, cuma, dalam masa 4 thn ni, terlalu bnyk Ilmu Allah yang saya kutip dari Ust, Syukran Ust..

Betul kata pepatah, keakraban akan memberi kesedihan..saya doakan Ust terus berjaya, dan berbahagia bersama Isteri...

HAMBA KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Dé Céadaoin 3 Meán Fómhair 2008

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."
Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

UTUSAN BUAT TEMAN SEPERJUANGAN…

BISMILAHIRRAHMAANIRRAHIM
Segala pujian bagi ALLAH, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Maha Besar Allah menjadi bumi ini dengan penuh Kebijaksanaan dan Kebesaran-Nya. Tidak dapat diungkapkan kesyukuran dengan hanya mengatakan “Allhamdulillah” sahaja tanpa mengamalkan segala Ad-din Allah dengan segala perubatan yang telah digariskan oleh Pemerintah alam. Tidak cukup lagi dengan bumi Allah menjadikan langit sebagai pelengkap tanpa bertiang, supaya manusia berfikir. Lalu langit itu dihiasi bintang-bintang berkelipan dan bulan menyinari alam, juga matahari pemberi cahaya pada waktu siang. Malam dan siang pula amat berlainan peranannya. Pada waktu siang berkerjalah manusia untuk mencari nafkah, setelah penat lelah maka manusia letihlah sekali lagi dengan sifat Rahman-Nya, Dia menjadikan malam itu untuk berehat tanpa meminta gaji atau balasan. Semuanya di beri percuma. Tahukah nikmat malam itu, ketahuilah nikmat malam amat besar kepada manusia. Dalam bidang perubatan malam itu akan merehatkan manusia dan mengumpulkan tenaga semulajadi, menghapuskan toksik setelah sistem Endokrin berkerja keras menghadapi tekanan semasa siang tadi. Tidakkah manusia itu memikirkannya. Banyak lagi nikmat-Nya yang tidak dapat dihitungkan yang diberikan oleh Pemerintah Alam ini. Semuanya di bawah Jagaan-Nya terpulang pada-Nya untuk memerintah.

Walaupun sebegitu ramai manusia yang kufur kepada nikmat-Nya, lalu manusia itu berpalinglah daripada jalan yang lurus. Anak perempuan dibunuh, dengan alasan mereka malu mempunyai anak perempuan. Jika seorang bapa mendapat tahu bahawa isterinya melahirkan anak perempuan, hitamlah muka si bapa dan berdukacita, jauh dilubuk hatinya amat bersedih dan sehingga menanam anak perempuan itu hidup-hidup di tanah. Lalu menjeritlah si anak perempuan “Ayah apa salahku ayah” sambil anak itu menitiskan air mata. Tidak cukup lagi dengan kejahilan itu manusia menjadikan wanita itu hamba nafsunya, menjadi hamba dan berTuhan kepada nafsu diri mereka, menyembah berhala dan bermacam-macam lagi perkara yang tidak masuk akal dilakukan oleh mereka sehingga aku sukar untuk mengungkapkan kejahilian manusia itu.

Namun sekali lagi Allah SWT menolong manusia dengan mengutuskan seorang pesuruh-Nya sebagai tanda kasih sayang-Nya kepada hamba. Siapakah utusan itu? Sudah pasti dia adalah seorang yang lemah lembut, teguh hatinya, baik tutur katanya, mulia akhlaknya dan pasti menjadi ikutan untuk kebahagian dunia dan Akhirat. Diberitakan namanya oleh Isa anak mariam sebagai “Ahmad.” Disebut oleh kita Muhammad SAW yang bererti “Keamanan dan sejahtera.” Maka itu wahai saudara-saudara muslim hendaklah kita mengikuti jejak Nabi kita. Cintailah Nabi kita lebih daripada kita mencintai diri kita, kalau tidak sampai ke arah teruskan sehingga kita sampai ke tahap itu.

Saudara-saudara muslim, ketahuilah aku tidak menulis melainkan setelah hati menjadi tenang jika tidak tenang necaya tidak aku menulis buku untuk saudara-saudaraku. Tetapi hati ini telah menjadi tenang dan masih ada cahaya Allah di dalam dada ini, amat sedikit wahai saudaraku cahaya itu, namun aku takut terpadam jika terpadam tidaklah aku mengenali Allah SWT. Yang amat ditakuti apabila aku tidak tidak dapat menyampaikan apa yang diperhati dan pengalamanku semasa menjadi pimpinan JIK dan Politik. Biarlah aku mengemukakan pemerhatian ini supaya menjadi satu landasan dan rujukan kepada saudara-saudaraku yang duduk di JIK sekarang ini untuk memeperbaiki kelemahan-kelamahan pada masa dahulu. Ketahuilah saudara-saudaraku buku ini disiapkan olehku berdasarkan ilmu dan pengalaman yang sebenarnya, bukanya aku mereka-reka. Mudah-mudahan akan beratlah timbanganku di masa akhirat kerana sedikit tulisan ini. Aku mohon maaf seandainya terdapat kritikan menyetuh hati saudara-saudaraku dan mohon ampun kepada Allah SWT. Sesungguhnya aku mengharapkan redha Allah SWT dan diberi petunjuk untuk menyiapkan dan menyampaikan “UTUSAN BUAT TEMAN SEPERJUANGAN” ini.INSYAALLAH.

-Di petik dari artikel
UTUSAN BUAT TEMAN SEPERJUANGAN…

Menarik untuk kita renungi..ketuklah pintu hati kita..Demi Sebuah Hidayah..

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Tangisan Seorang Rasul...

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkansalam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mataDan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan."Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka."Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengerang, kerana sakit yang tidaktertahankan lagi.“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut inikepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dandadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendakmembisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya."Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Saudaraku...berapa ramaikah antara kita yang menangis lantaran kerana menonton filem sedih? tapi pernahkah kita menangis mengenangkan betapa suci dan agungnya CINTA Rasulullah kepada kita...CINTAILAH..CINTAILAH.. baginda kerana Syafaat baginda yang kita harapkan..di Yaumil Mahsyar...

HAMBA YANG KERDIL
MOHD SYAHID ADAM

Dé Máirt 2 Meán Fómhair 2008

Terbaliknya orang kita...

Ramadhan sudah masuk hari yang ke 3, Alhamdulillah, sempurna sudah dua hari berpuasa,begitu pantas masa berlalu...
aku rasa terpanggil untuk menulis tentang para ini sebab, rasa terpanggil untuk menyentuh dan memperbertulkan beberapa perkara, amalan orang kita yang terbalik pada bulan Ramadhan...
saban tahun, setiap kali Ramadhan,beberapa keanehan yang biasanya berlaku, akan tetap berlaku, aku hanya nak sentuh beberapa perkara...

1. Selalunya orang kita ni, semmua nak bangun sahur, takut terlalu lapar bila puasa \ nanti, Alhamdulillah, syukur, berlumba-lumba amal sunnah Rasullullah..
Tapi yang peliknya, ramai yang lepas sahur, tertidur krana terlalu kenyang..
Peliknya.. terlepas solat subuh berjamaah..sunnah yang lebih diutamakan Rasul,
(aku takut terlepas waktu subuh yang wajib) kerna mengejar pahala sunat..
Na'uzubillah.

2. orang kita ni..kalau puasa..pagi-pagi lagi dah fikir apa lauk nak buat berbuka..
(tu xpa lagi..) tapi sayangnya..penat puasa sehari..penghujungnya..berakhir di
ramadhan, yang penuh dengan pemandangan yang menjolok mata..sedihnya..nasib orang
kita...



Jangan cacatkan Ramadhan Kita..( Kenangan berbuka Puasa Tahun lepas)
3.

3. Berpuasa..tapi xsolat...

Ini satu lagi yang pelik bin ajaib, tapi itulah hakikat yang berlaku
sekarang.. Puasa separuh mati..tapi solat di tinggal..ini saya umpamakan,
macam orang yang hendak membina rumah tanpa tiang..pasti akan nampak jelas
kebodohannya..

Saudara-saudaraku..banyak lagi kesalahan dan kesilapan orang kita dalam Ibadah ni..marilah sama-sama kita baiki..Ingatlah Sabda Rasul S.A.W mafhumnya ;
"kadangkala orang yang berpuasa itu tiada mendapat apa-apa dari puasanya selain Lapar dan dahaga'

Baikilah puasa kita bersama..mudah-mudahan Objektif " La'allakum Tattaquun " itu tercapai.

HAMBA YANG KERDIL...
MOHD SYAHID ADAM

Indahnya Ramadhan...





Solat Tarawih di P.P.I IPTAR..
2 Ramadhan 1429 Hijrah
Imam dan Tazkirah : Ust Saiful Azhar Zainal Abidin

Dé Luain 1 Meán Fómhair 2008

Tilawahlah Daku...


1. Firman Allah Ta'ala: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89),

2. Firman Allah Ta'ala: “.... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma'idah: 15-16).

3. Firman Allah Ta'ala: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57).

4. Sabda Rasulullah s.a.w.: "Bacalah Al-Qur'an, kerana ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya." (HR. Muslim dari Abu Umamah).

5. Dari An-Nawwas bin Sam'an r.a., katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur'an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surah ini." (HR, Muslim).

6. Dari Utsman bin Affan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhar)

7. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).

8. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash r.a.ma, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dikatakan kepada pembaca Al-Qur'an: "Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, kerana kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).

9. Dari Aisyah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala." (Hadits Muttafaq 'Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

10. Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, iaitu: orang yang dikurniai Allah Al-Qur'an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikurniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang" (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Yang dimaksud hasut di sini iaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469.)

Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki anda kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta'ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur'an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derjat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah s.a.w. dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur'an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

a href="http://2.bp.blogspot.com/_Aj_CAMPAsIs/SLu-nhpS7II/AAAAAAAAAIo/C-pIN1Fgchg/s1600-h/DSC06206.JPG">
Tadarus..Cahaya Ramadhan..

Dan perlu anda ketahui, bahawa membaca Al-Qur'an yang berguna bagi pembacanya, iaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Qur'an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur'an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya). Firman Allah Ta'ala:

Perutusan Khas Ramadhan

Alhamdulillah kita dipertemukan kembali dengan bulan penuh rahmat dan keampunan daripada Allah Subhanawataala. Saya merakamkan ucapan selamat menyambut Ramadan al-Mubarak kepada seluruh rakyat Malaysia dan umat Islam di pelusuk dunia.

Menjadi kebiasaan kita orang Melayu mengenali Ramadan sebagai bulan puasa. Tanpa disedari sebutan yang sudah lama berakar umbi itu tidak tepat dengan pengertian sebenar Ramadan.


Hiasilah Rumah Allah dengan IBadah..

Ramadan bukan sekadar dihiasi dengan ibadat puasa yakni menahan diri daripada makan, minum dan apa sahaja yang membatalkan puasa kerana takrifan sebenarnya lebih luas lagi.




Puasa juga sebenarnya boleh dilakukan pada bulan lain, seperti yang menjadi amalan sesetengah daripada kita iaitu bulan Rejab dan Syaaban. Sebab itulah penggunaan istilah Ramadan lebih tepat bagi menggambarkan maksud dalam melaksanakan amal ibadat sepanjang bulan penuh berkat ini.

Ramadan juga membawa maksud bulan kebajikan di mana di dalamnya ada zakat fitrah yang menjadi kewajiban dilaksanakan setiap umat Islam. Umat Islam amat digalakkan bersedekah sebagai melengkapkan amalan ibadat puasa kita di siang hari.

Ini kerana di sekeliling kita ada mereka yang kurang bernasib baik. Maka pada kesempatan ini kita hulurkan sedikit sumbangan kepada mereka.

Oleh itu saya mengajak umat Islam menggunakan kesempatan Ramadan kali ini bagi menggandakan amal ibadat serta memohonkan keampunan daripada Allah Taala

Dé Domhnaigh 31 Lúnasa 2008




Alhamdulillah, pada hari khamis lepas, ceramah Ambang Ramadhan telah disampaikan oleh Ust Yazid Razali, Mdh-mudahan Ramadhan ni btul2 membawa prubahan besar dalam hidup aku...amiin


Sekitar Ceramah Ambang Ramadhan

Dé Sathairn 30 Lúnasa 2008

Perlukah Aidilfitri Di komersialkan?????

Persatuan Pengguna Pulau Pinang (CAP) kesal dengan keghairahan pihak-pihak tertentu di negara ini yang mula mengkomersialkan sambutan Aidilfitri serta mempromosikan tabiat berbelanja secara membazir dalam kalangan masyarakat kita hari ini

Hal ini bukan sahaja berlawanan dengan ajaran Islam malah menjejaskan iman seseorang Muslim. Pusat-pusat membeli-belah dan syarikat-syarikat korporat kini mula menggunakan sambutan Aidilfitri untuk mengiklankan produk dan khidmat mereka.


Sekadar Hiasan.

Terbaru, di dalam akhbar tempatan terdapat syarikat yang menjual perabot dan barangan elektrik mula mengiklankan produk mereka dengan kata-kata 'Syawal Mega Sale!' dan 'Jualan Syawal Mega!'sedangkan kita masih berada pada bulan Rejab dan dua bulan lagi iaitu Syaaban dan Ramadan untuk dilalui sebelum menyambut Aidilfitri.

Kami yakin apabila tiba pula bulan Ramadan nanti akan bertambahlah lagi pusat-pusat membeli belah yang akan mempromosikan jualan dengan pelbagai slogan untuk menarik umat Islam dan pengguna membeli-belah sepertimana yang berlaku pada 2005 di mana terdapat iklan 'Buka Puasa Contest'.

Seperti tahun-tahun yang lepas, kami mendapati pusat-pusat beli-belah sering dipenuhi dengan pembeli-pembeli pada setiap malam, sedangkan mereka sepatutnya memenuhi masjid dan surau untuk menunaikan solat tarawih.

Mereka yang berpendapatan rendah sering turut terpengaruh oleh iklan-iklan agresif sehingga memerangkap mereka untuk membeli barangan mahal yang sebenarnya tidak perlu dan membazir yang akhirnya terheret dalam hutang yang membebankan.

Akibatnya sumber dan pendapatan mereka yang sangat terbatas lebih-lebih lagi dalam keadaan harga minyak yang mahal serta harga barangan yang semakin meningkat ini menyebakan ia disalurkan dan terhakis kepada penggunaan yang membazir dan tidak berguna.

Media cetak dan elektronik nampaknya turut menyumbang kepada berkembangnya dalam kalangan masyarakat budaya hedonisme dan materialisme pada bulan suci Ramadan dan Syawal melalui iklan agresif yang licik untuk mempengaruhi minda, selera dan nafsu pelanggan termasuk acara hiburan yang melanggar syarak. Ramadan dan Aidilfitri menjadi kesempatan untuk merangsang pengguna kepada tabiat penggunaan yang berlebihan.

Filem, drama, dan program sukan di dalam TV disiarkan pada setiap malam melekakan masyarakat daripada pergi ke masjid dan surau. Golongan lelaki, wanita, belia dan kanak-kanak turut didedahkan kepada keganasan, jenayah, dan tingkah laku tidak berakhlak melalui pelbagai siaran di saluran TV pada waktu maghrib, isyak dan seluruh malam sedangkan mereka sepatutnya menggunakan waktu itu untuk memperbanyakkan solat dan membaca al-Quran.

Namun di sebaliknya umat Islam kini didorong untuk berbelanja dan menggunakan secara berlebihan dan membazir sedangkan sumber ekonomi masyarakat Islam amat terbatas. Hal ini berleluasa setiap kali tibanya bulan Ramadan dan sambutan Aidilfitri.

Sehubungan itu, CAP menggesa langkah segera diambil untuk menyekat kecenderungan yang tidak sihat dan bercanggah dengan nilai-nilai Islam ini dan kami mencadangkan langkah-langkah berikut diambil:

1. Mengharamkan dengan segera sebarang iklan yang menggunakan Ramadan dan Aidilfitri untuk mempromosi produk atau perkhidmatan.

2. Menggesa pihak media elektronik tidak menyiarkan sebarang program yang bercanggah dengan roh Ramadan, sebaliknya menyiarkan program-program yang meningkatkan pembinaan kerohanian masyarakat.

3. Suatu usaha yang bersungguh-sungguh perlu dilancarkan oleh pihak kerajaan bersama dengan badan-badan Islam untuk menanamkan nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat.

Di Tulis oleh presiden Persatuan Pengguna Pulau Pinang.

Ber B.B.Q sebelum Ramadhan.

Jangan Salah faham!! bukan makan lepas geram sebelum Ramadhan, sekadar pengerat ukhuwah sesama kami.. Alhamdulillah, dengan usaha Akh Syahrul dan Akh Hisyam, kami sama-sama berukhuwah petang semalam..serronok bila di serikan dengan telatah Hafiz dan Iqbal, putera-putera comel akh Syahrul..manisnya berakhir dengan Solat Maghrib berjamaah di Masjid.. moga Ukhuwah berpanjangan...Marhaban YA RAMADHAN....















Marhaban ya ramadhan...

Ramadhan dah hampir tiba...mudah mudahan aku di beri kesempatan mengecapi Rahmat Ramadhan... Tambah laha amal kita, kalau hari ini kita menyambut ulang tahun merdeka, esok, kita juga akan menyambut Kemerdekaan...Merdeka dari Syaitan dan Iblis, cuma persoalannya... adakah kita tetap merdeka dari nafsu yang menjadi pengganti Syaitan di bulan Barakah ini???? Fikir-fikirkanlah...

Selamat Berpuasa dan menggandakan Ibadah dalam Ramadhan, kepada Seluruh yang mengenali diri... Khususan buat Mak dan Abah di Kampung...

Semoga Madrasah Ramadhan akan menjadikan kita lebih TAQARRUB ILALLAH...aMIIN..


HAMBA YANG KERDIL...
MOHD SYAHID ADAM

Dé Sathairn 16 Lúnasa 2008

Dé Céadaoin 13 Lúnasa 2008








macam tak percaya je aku ni nak jadi cikgu, tapi itulah hakikatnya.. sekarang aku dan kawan-kawan tengah buat ROS ( Rancangan Orientasi Sekolah di SK Meranek, Kota Samarahan, tersentuh betu hati melihat murid-murid skolah rendah.. gembira dan ceria selalu..terkenang zaman sekolah rendah aku dulu. budak-budak ni cukup suka bila dapat cikgu baru...berebut-rebut nak bersalam..

Apa yang banyak aku belajar setelah 4 kali kami ke sekolah, ( termasuk kali ni) yang pastinya.. teori yang kami belajar.. nampak macam senang tapi hakikatnya.. Hanya Allah Yang tau.. susah, dan mencabar..

Besarnya peranan Guru Agama macam aku, beban dakwah, perlu dilaksanakan dengan cara paling lembut dan hikmah.. hubungan baik jangan dirosakkan.. capailah matlamat Dakwah dan Islah dalam suasana penuh Kasih sayang...

Manisnya Dakwah dalam Kelembutan...

Dé Sathairn 2 Lúnasa 2008

Kebaikan..Hanya Kebaikan...

















Balutan ku di kepalamu..
Allahu Akbar!!! letih sungguh hari ni, aku menyelesaikan Bengkel Bulan Sabit Merah VAD 64, bermula dengan teknik pertolongan cemas, sampaila kepada kawad kaki, letih sungguh rasanya, tapi pengalaman dan ilmu yang di kutip harap dapat aku manfaatkan untuk perkhemahan di sibu nanti...


Assyahid Hasan Al-Banna..Menggoncang Tembok Keangkuhan Barat..

Al-Mathurat...Siapa penyusunnya??????








Keadaan di Mesir pada zamannya
.

Hasan al-Banna dilahirkan di Mesir pada awal abad 20 Masehi. Dalam suku
pertama abad 20 Masehi ini dia telah melancarkan satu gerakan Islam yang besar,
yang terkenal dengan nama “Ikhwanul Muslimin”. Hasan al-Banna dan Ikhwanul
Muslimin adalah dua nama yang tidak dapat dipisahkan. Begitu bertenaga sekali
gerakan tersebut sehingga pengaruhnya bukan saja merebak di Mesir, tetapi telah
meresapi seluruh Dunia Arab. Gerakan Ikhwan telah mencetuskan kebangkitan Islam dan roh Islam di Dunia Arab

Jika kita betul-betul hendak menghargai segala usaha beliau dan memahami
peribadinya, maka perlulah kita mengenali suasana (keadaan) dan zaman ketika beliau dilahirkan, dibesarkan dan dididik. Disamping itu, kita juga perlu mengetahui
cabaran-cabaran dalaman dan antarabangsa yang sedang mengancam Mesir ketika
Imam Hasan al-Banna dilahirkan. Sekarang kita akan mengkaji zaman ketika beliau
dilahirkan dan peranan besar yang dimainkan olehnya.

Gerakan Pembebasan - Terbahagi kepada dua kumpulan besar.

Pemberontakan Airabi Pasya gagal pada tahun 1833 Masehi. Kegagalan ini
merupakan satu malapetaka politik yang besar bagi Mesir. Peristiwa tersebut
menimbulkan ketakutan dan kekecewaan diseluruh negara Mesir. Lantaran itu, Mesir
dilanda pertikaian disegi akhlak dan kefahaman (ideologi). Orang ramai berasa takut
bila nama gerakan pembaharuan atau politik disebut. Keadaan ini berlarutan sehingga
permulaan abad 20 Masehi. Akhirnya sebuah pertubuhan belia Mesir telah ditubuhkan
untuk memupuk kesedaran kepada rakyat Mesir. Mereka melancarkan gerakan
menentang British. Para pemuda ini tergolong ke dalam dua kumpulan. Kumpulan
pertama memiliki semangat Islam. Kumpulan yang kedua pula inenggunakan cara
yang agak baru dan berlainan. Cogan kata mereka ialah “Kebangsaan Mesir”. Dasar
perjuangan kumpulan kedua ini bertentangan dengan kumpulan pertaina yang
berlandaskan nilai-nilai Islam serta menyebelahi Kerajaan Turki Bani Othmaniah.


Kumpulan Pertama

Kumpulan pertama cintakan Islam dan tanah air. Kumpulan ini diwakili oleh
pertubuhan “Al Hizbul Watani” yang dipirnpin oleh Mustaffa Kamal, seorang yang
bijak bersyarah. Beliau memupuk semangat kebangsaan yang berdasarkan Islam di
hati orang orang Mesir. Beliau tidak menganggap agama dan semangat kebangsaan
itu bertentangan antara satu sama lain. Cogan katanya ialah “Agama (Deen) dan tanah
air adalah saudara kembar yang tidak boleh dipisahkan.” Kumpulan ini
membayangkan kecintaan mereka kepada tanah air umparna seorang kekasih memuji
orang yang dicintainya. Inilah yang dibayangkan oleh penyair terkenal, Ghayati dan
Muharram melalui syair-syair mereka. Di antara pernimpin-pemimpin kumpulan ini
ialah dua orang ulama' yang bernama Muhammad Farid Wajdi dan Abdul Aziz
Jawesh. Kegiatan kumpulan ini telah menimbulkan kebimbangan dipihak penjajah
British dan Raja Mesir. Muhammad Farid Wajdi dan Abdul Aziz Jawesh telah
dipenjarakan kerana menulis huraian mengenai kumpulan syair karya Ghayati.

Kumpulan Kedua

Kumpulan kedua terdiri daripada para pejuang fahaman kebangsaan yang
mulhid (atheis). Dasar perjuangan mereka bertentangan dengan dasar perpaduan dan
persaudaraan Islam. Golongan ini tidak suka orang ramai mencorakkan kehidupan
mereka menurut dasar-dasar Islam. Kumpulan ini menegakkan fahaman kebangsaan
Mesir. Fahaman kebangsaan mereka adalah salah kerana mereka menjaga
kepentingan negara mereka saja tanpa mempedulikan segala masalah yang menimpa
Negara-negara Islam yang lain. Mereka menyungkil kembali ciri-ciri sejarah Mesir
kuno untuk memperkukuhkan fahaman kebangsaan mereka tadi. Bahkan mereka
mengaitkan sejarah mereka dengan sejarah para Firaun. Mereka menganggap
perjuangan menegakkan fahaman kebangsaan Mesir adalah satu perjuangan yang baik
walaupun terpaksa mengorbankan kepentingan-kepentingan lain. Walaupun kumpulan
ini bersatu atas dasar fahaman kebangsaan Mesir, tetapi sebenamya mereka berpecah
pula kepada dua ranting berdasarkan kepada perbezaan pemikiran dan pendapat.

Dé Céadaoin 30 Iúil 2008

PEMIKIRAN SALAFI

Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Adalah suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :

1.Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2.Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
3.Memahami kes-kes furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
4.Menyerukan “Ijtihad” dan pembaharuan.Memerangi “Taqlid” dan kejumudan.
5.Mengajak untuk beriltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
6.Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
7.Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
8.Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
9..Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitinya.
10.Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreativiti dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktik. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil memindahkan Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Citra “Salafiah” Dirosak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah “Salafiah” telah dirosak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formaliti dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf.

Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeza pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahawa manhaj Salaf adalah cara “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktikal. Dan juga mengesankan bahawa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formaliti dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “mundur”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah memandang ke depan. Fahaman Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatik terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah sinonim dengan anti pembaharuan, mematikan kreativiti dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderate dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merosakkan citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pada masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling patut mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Kerana pembaharuan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpaskan fahaman “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l - malaam ‘anil - A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.

Demikian kuatnya serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang tersebar di dalamnya. Khususnya di tangan pengasas madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan peribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekadar Ucapan Mereka

Yang perlu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekadar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal yang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya.

Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan bererti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. iaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara objektif, bukan memandang orangnya. Apa ertinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kurang penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.

Di dalam sel penjara dan penyeksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.
Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaedah :
“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

(disalin dari buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah” karya Dr.Yusuf Al Qordhowi, edisi terjemahan Penerbit Usamah Press)

Dé Luain 28 Iúil 2008

Ambil pengajaran Israk dan Mikraj

Umat Islam seluruh dunia akan menyambut ketibaan peristiwa agung iaitu Israk dan Mikraj yang ada disebut dalam ayat pertama surah al-Israk tidak lama lagi. Mereka tidak akan melepaskan peluang keemasan yang datang sekali setahun dalam bulan hijriah. Ia bagaikan dinanti-nanti oleh pencinta agama Islam, kerana kepentingannya dalam mentarbiyah jiwa manusia ke arah kesempurnaan.

Israk dan Mikraj adalah salah satu peristiwa penting yang berlaku pada diri baginda Rasulullah s.a.w. Ia juga dianggap salah satu komponen daripada 'Sirah Nabawiyyah', yang bermaksud: Sirah Nabawiyyah adalah pelaksanaan Islam secara praktikal dan contoh tepat dalam menegakkan sebuah negara Islam - Syeikh Munir Muhammad al-Ghadban / Al-Manhaj al-Haraki Li as-Sirah an-Nabawiyyah, juzuk 1, Maktabah al-Wafa', Mansoorah, Mesir ? 1986.

Ulama berselisih pendapat dalam menentukan ketetapan tarikh berlakunya peristiwa penting itu. Menurut Ibn Ishaq ia berlaku selepas 10 tahun baginda dilantik menjadi Rasul. Az-Zuhri pula berpendapat ia berlaku setahun sebelum baginda berhijrah ke Madinah iaitu pada bulan Rabiul Awal, sementara as-Saddi menegaskan ia berlaku pada bulan Rabiul Awal, 16 bulan sebelum baginda berhijrah. Ada pun al-Hafiz Abdul Ghani Ibn Surur al-Maqdasi berpendapat ia berlaku pada 27 Rejab sebelum penghijrahan baginda ke Madinah.

Sementara Syeikh Prof Dr Yusuf al-Qaradawi pula berpendapat, bahawa riwayat mengenai peristiwa Israk dan Mikraj terdapat banyak pembohongan dan riwayat palsu yang boleh menggugat kedudukan iman Muslim, kerana peristiwa tersebut tidak berlaku pada bulan Rejab berdasarkan penjelasan al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani, di mana ia tidak berlaku pada malam 27 Rejab kerana ia tidak disokong dengan hadis-hadis Sohih atau pun kata-kata Sahabat yang Sohih.

Itulah juga pendapat Imam an-Nawawi daripada mazhab Imam as-Syafie dan Imam Abu Ishaq yang berpendapat bahawa Israk Mikraj berlaku pada malam 27 Rabiul Awal. Justeru tiada nas yang menyebut keistimewaan beramal pada hari tersebut, sama ada dengan ibadat puasa atau yang lain, kerana puasa pada hari yang tidak jelas bila berlaku peristiwa itu adalah sebahagian daripada perkara bidaah, kerana tiada nas yang jelas menyuruhnya, tetapi jika kebetulan ia jatuh pada hari Isnin atau Khamis, puasa yang dilakukan itu dibolehkan kerana Nabi sering melakukannya.1

Tetapi apa yang penting diambil iktibar daripada peritiwa itu, ialah pengajaran mengenai perjalanan baginda dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa dan mikraj Rasul hingga ke langit ketujuh (Sidratul Muntaha).2

Adapun berpuasa sunat pada bulan Rejab secara umumnya adalah sesuatu digalakkan berdasarkan satu hadis do'if yang disebut oleh Imam as-Suyuti daripada Ibnu Abbas, baginda bersabda maksudnya: "Sesiapa yang berpuasa sehari dalam bulan Rejab, dia bagaikan berpuasa satu bulan, sesiapa yang berpuasa tujuh hari, maka dia tidak akan dimasukkan ke dalam neraka (kerana ia telah ditutup buatnya), sesiapa yang berpuasa sepuluh hari, maka segala kejahatannya diganti dengan segala kebaikan." 3

Adakah Israk berlaku dengan roh dan jasad Nabi?

Musuh-musuh Islam terutamanya di kalangan Orientalis barat, telah meletakkan jarum-jarum mereka dalam penulisan buku-buku sejarah dan sirah baginda Rasulullah s.a.w. Ia bertujuan agar umat Islam yang membacanya akan terkeliru dengan fakta sebenar mengenai perjalanan Israk dan Mikraj.

Mereka berpendapat, bahawa peristiwa Israk dan Mikraj hanya berlaku dalam mimpi baginda, iaitu hanya dengan roh sahaja dan tidak dengan jasad sekali, itu hanya dakwaan Muhammad semata-mata.

Namun bagi para ulama pula, mereka sepakat menyatakan bahawa Israk dan Mikraj yang berlaku ke atas baginda Rasulullah s.a.w. dengan roh dan jasad sekali, tidak hanya dengan roh seperti yang didkawa oleh musuh-musuh Islam.

I ni kerana mereka berpendapat, bahawa ungkapan perkataan 'hamba-Nya' dalam ayat pertama mengenai Israk merangkumi roh dan jasad pada diri seorang insan khususnya Nabi Muhammad s.a.w., sedangkan ia berlaku hanya dengan roh sahaja adalah berdasarkan riwayat-riwayat palsu yang sengaja untuk melemahkan keperibadian Rasulullah.
Sedangkan terdapat riwayat menunjukkan bahawa baginda menerima pensyariatan ibadat solat lima waktu secara langsung daripada Allah SWT adalah dengan roh dan jasad, itulah satu-satu ibadat khusus yang diberikan Allah secara langsung kepada baginda berbeza dengan ibadat-ibadat lain.

Program masjid ke masjid menjadi ukuran hiburan baginda

Peristiwa Israk dan Mikraj berdasarkan penjelasan para ulama berlaku sebelum penghijrahan baginda ke bumi Madinah. Ia sebagai satu pendekatan Allah untuk menghiburkan Nabi-Nya yang kehilangan dua tonggak kekuatan dakwah baginda, iaitu bapa saudaranya Abu Talib dan isteri tercinta iaitu Sayidatina Khadijah.

Sebagai manusia, baginda juga merasa sedih dan pedih dengan kematian dua orang penting yang banyak berjasa dalam mengembangkan sayap-sayap Islam di Makkah, namun Allah SWT mahu baginda terus berhubung kepada-Nya dalam keadaan yang penuh dengan kesedihan dan kemurungan.

Maka Allah Yang Maha Bijaksana telah merancang satu program berbentuk keagamaan, iaitu program masjid ke masjid, iaitu daripada Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsa di Palestin, inilah contoh terbaik satu bentuk hiburan bagi menghilangkan perasaan gundah gulana yang dialami baginda selepas kematian dua tokoh terpenting.

Ia berlaku dalam semalaman sahaja yang menandakan bahawa Allah mampu bertindak demikian, walaupun ramai di kalangan manusia tidak mempercayainya malah menafikannya, sehingga pada waktu itu datang Abu Bakar as-Siddiq tanpa mengambil masa panjang terus mengiyakan peristiwa berkenaan.

Hasil daripada program masjid ke masjid

Yang paling penting daripada peristiwa Israk dan Mikraj, ialah baginda menerima kewajipan solat lima waktu yang dijemput Allah secara langsung di langit yang ketujuh.
Walaupun pada peringkat awal, Allah mewajibkan 50 waktu solat yang dijangkakan bahawa umatnya tidak mampu untuk melakukannya atas nasihat Nabi Musa a.s, maka baginda terus melakukan tawar menawar dengan Allah agar dikurangkan kepada jumlah yang sedikit.
Baginda berjumpa dengan Allah dengan merayu kepada-Nya supaya ia dikurangkan, dengan perasaan malu baginda tetap berjumpa Allah sehingga ia dikurangkan kepada lima waktu, itulah pengorbanan dan ingatan baginda terhadap umatnya.

terdapat di kalangan umatnya tidak berterima-kasih kepada baginda kerana sanggup meninggalkan solat fardu berkenaan, walaupun kita hanya melakukan lima waktu, tetapi diganjari dengan lima puluh pahala, berbeza dengan umat terdahulu, lima puluh waktu solat hanya diganjari satu pahala setiap solat. Inilah kelebihan kita sebagai pengikut dan umat Nabi Muhammad, tetapi mengapa masih ramai yang mengabaikan tanggungjawab ini, sedangkan solat adalh perkara pertama yang ditanya oleh Allah pada hari Qiamat, tidak yang lain.

Baginda mengimamkan solat nabi-nabi sebelum dimikraj

Baginda Nabi Muhammad s.a.w. sebelum berangkat dengan 'Buraq' untuk menuju langit ketujuh, menjadi imam solat kepada nabi-nabi terlebih dahulu, antaranya Nabi Musa a.s., ia berdasarkan sebuah hadis, di mana baginda bersabda: "Jika Musa bin Imran diutus di kalangan kamu, maka tiada sebab dia menjadi salah seorang pengikutku."
Suasana solat berjemaah yang diimamkan oleh baginda nabi Muhammad s.a.w. itu menunjukkan bahawa para nabi semuanya akur terhadap kedudukan baginda sebagai Rasul terakhir yang menyempurnakan syariat agama Allah.

Mereka bersalaman antara satu sama lain sebagai tanda kesyukuran dan simbolik menyerahkan tugas kerasulan kepada Nabi Muhammad s.a.w., ia juga sebagai satu petanda betapa hubungan antara Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsa begitu intim dan akrab, apatah lagi majoriti para nabi di kalangan Bani Israil yang merupakan kiblat pertama umat Islam di muka bumi ini, selain menjadi syiar agama Islam terdahulu.
Ia juga menunjukkan bahawa kepimpinan baginda Rasulullah s.a.w sebagai Nabi terakhir diperakui oleh Allah, sebagaimana yang ditegaskan menerusi beberapa ayat al-Quran mengenainya.4

Pengajaran penting daripada Israk dan Mikraj

Menurut Syeikh Prof Dr Yusuf al-Qaradawi, menerusi peristiwa berkenaan, kita boleh fokuskan kepada dua perkara penting, pertama berhubung dengan Masjid al-Aqsa dan hubungan dengan Masjid al-Haram, kedua mengenai kewajipan solat yang diserahkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Persoalannya di sini, mengapa Allah tidak memperjalankan baginda terus ke langit ketujuh, tetapi singgah dahulu di Masjid al-Aqsa?

Ini kerana Allah mahukan agar baginda bertemu dengan para Anbiya terlebih dahulu bagi menyatakan sokongan padu mereka terhadap kerasulan Nabi Muhammad, di samping mahu baginda singgah di sebuah tempat yang penuh dengan keberkatan daripada Allah SWT seperti yang disebut dalam ayat pertama surah al-Israk.
Kepimpinan baginda menjadi titik tolak penyatuan akidah dan syariat di kalangan para Anbiya, justeru baginda menjadi imam solat kepada mereka, iaitu kepimpinan bersifat global, bukan hanya untuk kaum atau bangsa tertentu, malah buat manusia sejagat yang terdiri daripada pelbagai etnik, suku kaum, bangsa yang menunjukkan kebesaran Allah dalam mencipta makhluk bernama manusia.5

Hubungan Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsa tidak dapat disangkal oleh individu Muslim yang sayangkan agamanya. Ini kerana dari segi sejarah menunjukkan Masjid al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah kepada Masjid al-Haram hingga ke hari ini.
Justeru adalah menjadi tanggungjawab semua pihak khususnya di kalangan umat Islam membebaskan Masjid al-Aqsa dari cengkaman rejim Yahudi-Israel, kerana ia ada kaitan dengan persoalan akidah mereka.

Pengajaran kedua terpenting menerusi peritiwa Israk dan Mikraj, ialah pelaksanaan ibadat solat lima waktu, ia merupakan mikraj (lif/tangga) seorang Muslim menghadap Tuhannya, kepentingan solat juga tidak dapat dipersoal oleh mana-mana individu Muslim, walau apapun jawatan dan kedudukannya dalam masyarakat.
Apabila solat seseorang itu beres dengan Tuhannya, maka akan bereslah urusan hidupnya yang lain, hubungan roh seorang muslim itu sangat penting dengan Tuhannya, justeru ia ada kaitan dengan kedua-dua masjid yang disebutkan di atas.
Apabila seseorang itu menunaikan solat dengan penuh khusuk dan tawaduk, dia seolah-olah sedang berkata-kata dengan Allah, ia terserlah ketika membaca al-Fatihah tujuh belas kali sehari semalam, untuk menyatakan munajat dan aduannya kepada Allah bagi memudahkan tugas dan peranannya untuk menyeru manusia ke jalan kebenaran.6